Episode 22

Tian-ji pulang lebih malam karena dia menemukan dompet dan mengantarnya ke kantor polisi. Saat sedang makan, minya jatuh ke meja. Hal itu membuat Tian-ji menyadari bahwa meja makannya berbeda dengan yang sebelumnya. Dia pun mulai menanyakan harga meja makan tersebut. Karena takut Tian-ji akan marah, maka A Yue bilang bahwa harga meja makan itu NT$1.000. Setelah mendengarnya, Tian-ji merasa sangat murah. A Yue pun merasa tenang. Suatu hari, karena ingin mencari kain lap bersih untuk mengelap piagam, Tian-ji menemukan tanda terima meja makan di dalam laci. Setelah melihat harga yang tertulis di dalam tanda terima, Tian-ji sangat marah dan bergegas mencari A Yue untuk mananyakannya. Suami istri itu pun bertengkar. Tian-ji memutuskan untuk perang dingin dengan A Yue dan tidak mau makan di meja yang sama dengan A Yue. Suasana di rumah menjadi dingin. Setelah berlalu beberapa waktu, A Yue melihat Tian-ji sedang ingin memperbaiki motor. Melihat Tian-ji yang merasa berat hati untuk memperbaiki motor, A Yue pun mengintrospeksi diri. A Yue memberanikan diri untuk masuk ke bengkel dan meminta bos untuk memperbaiki motornya demi keselamatan suaminya. Tian-ji mengerti maksud A Yue dan memutuskan untuk mengalah. Mereka berbaikan kembali. Saat ada pertandingan bisbol, semua rekan kerja Tian-ji pergi memberikan semangat pada Yuan-can secara langsung. Ayah Xue dan Ibu Xue juga mengikuti pertandingan melalui siaran radio. Namun, tim bisbol Yuan-can kalah. Itu merupakan pukulan bagi Yuan-can. Namun, Tian-ji berusaha menghibur anaknya. Yuan-can akhirnya mengerti dan memutuskan untuk bersekolah di Taipei demi mewujudkan impian bisbolnya.