Istriku Bidadariku

Setiap Senin s/d Jumat | 20.00 WIB

Dulu, setiap hari saya adu menang dan kalah denganmu, kita sama-sama tidak takut satu sama lain. Saat itu, bahkan tidak tahu harus memaafkan orang lain, semakin banyak prinsip, perasaan pun menipis. Namun sekarang  sudah bisa mengasihi satu sama lain, relasi semakin dalam. Chen Li-xiu besar di Taipei. Di bawah realitas terjepitnya dia dan keluarganya untuk bertahan hidup, terbentuklah kesatuan dalam keluarganya. Chen Zhong-fu, anak dari seorang pemilik toko obat bernama Chen Teng. Ayahnya seorang  yang ramah terhadap orang lain dan bisa memberikan obat gratis pada orang yang kurang mampu. Dipengaruhi oleh sikap ayahnya, setelah dewasa, Zhong-fu menjadi seorang yang memiliki banyak relasi dan semua temannya memanggilnya bos.

Di dalam sebuah acara pertunangan, Zhong-fu jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Li-xiu. Zhong-fu yang awalnya bersikeras tak mau menikah dengan perempuan yang semarga dengannya, menjadi mengabaikan itu semua dan mulai antusias mengejar Li-xiu. Setelah menikah, mereka mencoba menemukan prinsip berinteraksi sebagai suami istri, keduanya bekerja sama dengan baik dan mulus. Xiu-li juga mendukung penuh Zhong-fu yang kemudian membuka toko obat. Mereka berdua giat berusaha dan hidup hemat hingga dapat mengawali sebuah usaha.

Setelah usahanya stabil, Zhong-fu dan Xiu-li malah sering bertengkar akibat kebiasaan masing-masing. Mereka berdua tiada hentinya saling melawan dan berusaha mendominasi satu sama lain. Hingga Xiu-li mendengar prinsip kebenaran, sadar bahwa menjadi seorang istri yang baik tidaklah boleh menjadi seorang istri yang keras, juga tidak boleh seperti seekor anjing galak yang membuat suami enggan pulang ke rumah. Xiu-li memutuskan untuk memperbaiki ucapan, sikap, dan pandangannya. Dia belajar untuk bersikap tenang, lembut dalam bertutur kata, menunjukkan sikap seorang istri yang baik dengan cinta kasih, toleransi, dan tindakan. Dari seorang nyonya bos toko obat yang berkuasa, lambat laun Xiu-li menghilangkan egonya dan dengan bijak serta sikap yang tulus berkomunikasi dengan suaminya. Dari seorang istri yang pemarah berubah menjadi seorang istri yang berbudi luhur. Tidak hanya dirinya yang berubah, tetapi perubahannya juga mempengaruhi Zhong-fu. Keduanya menyadari prinsip berinteraksi dalam suami istri bahwa tiada orang yang terlahir sempurna, kita semua ibarat gelas yang memiliki sisi retak. Selain keretakan itu, gelas itu tetaplah bulat, teh pun tetap enak diminum.

Twitter
Visit Us
YouTube
YouTube
Instagram