![]()
好願年哖 (Hao Yuan Nian Nian) DAAI Drama : Doa dan Ikrar |
|
Mulai Tayang Perdana : 12 Juli 2009 Setiap hari Pukul 19.00 wib
Re - Run : 07.00 dan 13.00 (hari berikutnya)
Sinopsis
Di perjalanan menuju ke biara untuk menjadi biksuni, A Nian disusul kembali oleh kakak iparnya, A Diao. Di rumah, semua anak mendapatkan pendidikan, kecuali dirinya. Sejak ibu tirinya menikah dengan ayahnya, A Nian tak pernah merasakan kesenangan layaknya seorang anak seusianya. Setiap hari A Nian di suruh bekerja, dan hanya berteman dengan kerbau. Setelah dewasa, A Nian dinikahkan dengan Xie Song-fu tanpa dibekali mas kawin. Belum cukup mendapatkan siksaan di rumah, setiba di rumah suami, A Nian juga disiksa oleh kedua kakak ipar A Nian. Karena tidak tega melihatnya menderita, akhirnya ibu mertuanya menganjurkan mereka untuk pindah rumah. Setelah beberapa tahun hidup mandiri, usaha perabot Song-fu boleh dikatakan mengalami kemajuan. Karena anak mereka bertambah banyak, maka A Nian berniat pindah ke rumah yang lebih besar. Karena belum punya uang, A Nian diam-diam menyisihkan uang belanjanya untuk ditabungkan tanpa sepengetahuan Song-fu. Tapi, tidak lama kemudian, Song-fu mengetahui kejanggalan ini. Ia pun sadar betapa A Nian ingin pindah ke rumah yang lebih besar. Akhirnya, secara diam-diam ia pergi mencari rumah, dan ia mendapatkan tawaran rumah yang bagus.
Impian Yu-nian dan suaminya, Song-fu untuk membeli rumah yang lebih besar akhirnya tercapai. Meski kehidupan mereka jadi lebih susah karena harus membayar cicilan rumah, namun Yu-nian tetap merasa berpuas diri. Tidak lama setelah pindah ke rumah baru, A Nian melahirkan anaknya yang ke empat. Walau sudah punya tempat usaha yang baru, tapi kehidupan A Nian masih tergolong susah. Tapi dengan kegigihanA Nian masih tergolong susah. Tapi dengan kegigihan kedua suami istri itu, kesulitan kecil ini tidak menjadi masalah. Suatu hari, A Yuan, adik A Nian sadar bahwa Su-qiong, putri sulung A Nian sangat tertarik dengan tulisan. Oleh sebab itu, A Yuan memberitahukan hal ini pada A Nian. Tapi setelah A Nian menyampaikan hal ini pada A Fu, dia tidaklah setuju. Mau menghidupi keluarga saja susah, apalagi untuk biaya pendidikan. A Nian ingin sekali memperjuangkan pendidikan untuk A Qiong. Tapi semua ini tidak berjalan lama, karena ketiga anaknya menderita cacar air, dan yang demamnya paling parah adalah A Qiong. Karena demamnya tak kunjung turun, A Nian pun membawa putri sulungnya ini ke rumah sakit. Tapi, setiba di rumah sakit, A Qiong sudah meninggal. Atas kejadian ini, A Nian menerima pukulan yang berat, begitu juga A Fu, mereka sangat menyalahkan diri atas kejadian ini. Setiap hari, A Nian pergi ke klenteng berdoa pada Buddha agar mewakili dirinya untuk menjaga putrinya yang telah meninggal akibat kelalaian dirinya sebagai seorang ibu.
Nyonya Lu pindah ke seberang rumah Yu-nian dan Song-fu, dia sering membantu menjaga anak-anak saat mereka sedang sibuk, juga sering memberi nasihat pada Yu-nian dalam hal berinteraksi dengan suaminya. Sejak A Qiong meninggal, A Nian selalu menyalahkan dirinya. Untuk ketenangan batin, ia sering pergi ke klenteng untuk memohon perlindungan dari para dewa. Suatu hari, ia bermimpi A Qiong datang mencarinya. Keesokan harinya ia pun pergi memohon petunjuk kepada Dewa. Penjaga klenteng mengatakan hidup A Qiong kurang baik di alam sana, ia pun minta A Nian bawakan papan nisan A Qiong untuk didoakan. Karena kurang yakin, A Nian pun pergi berdiskusi dengan kakak iparnya, A Diao. Oleh kakak iparnya, ia disarankan untuk mengundang roh A Qiong agar bisa bertanya secara langsung apa yang telah terjadi. Karena takut seisi keluarganya tertimpa sial, maka A Nian pun setuju dengan usulan kakak iparnya. Setelah diundang, roh A Qiong tidak kunjung tiba. Hal ini membuat A Nian tambah menyalahkan diri, ia merasa A Qiong marah padanya karena tidak menjaganya dengan baik. Jalan pikirannya ini sangat bertentangan dengan suaminya. Suatu hari, A Jin hampir mati tenggelam di sungai karena ingin mengambil selebaran reklame untuk dibaca A Qiong. Dalam benak adik-adiknya, A Qiong masih hidup di dalam hati mereka. Setelah melihat isi selebaran itu, Song-fu sangat terkejut, ternyata isinya adalah selebaran partai komunis. Jika ada yang berani menyimpan selebaran tersebut, akan ditembak mati. Atas kejadian ini, ia pun sadar betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Ia tidak Ingin keluarganya celaka hanya karena buta huruf. Ia yang awalnya menolak untuk menyekolahkan A Qin, akhirnya bersedia membekali anaknya dengan pendidikan.
Karena sering berdoa di klenteng, A Nian membuka wawasannya tentang karma buruk. Ia merasa, ia dilahirkan untuk membayar hutang karma buruknya, dari ia tidak diizinkan sekolah oleh ayahnya, hingga kematian A Qiong, ia kaitkan dengan karma buruk yang telah ia lakukan di kehidupan lalu. Oleh sebab itu, ia berikrar akan berbuat amal untuk meringankan karma buruknya ini, disisi lain Hui-long tidak suka memakai baju bekas pemberian bibinya karena malu ditertawakan teman sekolahnya, sehingga Song-fu marah dan memukulnya. Suatu hari, Song-fu terserang radang pankreas dan terpaksa harus dirawat inap di rumah sakit. Atas kejadian ini, A Nian merasa takut kehilangan sandaran hidup. Ia terus berdoa agar suaminya cepat sembuh. Jika terjadi apa-apa pada suaminya, ia tidak akan sanggup menghidupi ketujuh anaknya yang masih kecil. Hal serupa juga dirasakan Song-fu. Ia takut biaya rumah sakit semakin membengkak, maka ia memutuskan keluar rumah sakit tanpa seizin dokter. Ia sadar istri dan anak-anaknya sangat membutuhkannya untuk mencari nafkah.
Kun-ming, A Hua datang menjadi murid Song-fu, sebagai seorang guru, Song-fu memperlakukan kedua anak didiknya, Kun-ming dan A Hua dengan baik. Ia mengajari mereka dengan sabar dan penuh ketekunan. Jika kedua anak didiknya belum makan, maka anak-anaknya tidak diizinkan makan terlebih dulu. Su-fen, putri kelima mereka suka mengikuti Song-fu bekerja dan belajar tukang, sehingga Yu-nian mengomeli Song-fu agar jangan membiarkan Su-fen jadi terlalu tomboi, karena kelak akan susah mendapatkan suami. Suatu hari, A Fu mendapatkan pesanan kursi dan meja dari sebuah sekolah negeri. A Nian senang sekali mendengar kabar ini. Ia yakin, semua ini berkat perlindungan Sang Buddha dan juga berkah untuknya karena telah menyumbangkan dana untuk pembangunan klenteng. Usaha A Fu kian hari kian maju. Dari jerih payahnya bekerja, akhirnya mereka bisa membeli sebidang tanah. Oleh A Nian, sebidang tanah itu telah direncanakan untuk membangun rumah sekaligus toko. Di saat semua harapan A Nian hampir tercapai, ia mengalami gangguan di rahimnya. A Qin yang hendak membangunkan A Nian dari tidur, dikejutkan oleh darah A Nian yang mengalir hingga ke ranjang. Karena cemas, A Qin segera berteriak kepada ayahnya untuk memanggilkan pamannya yang menjadi dokter.
Karena pendarahan hebat, A Nian dilarikan ke rumah sakit tempat adik laki-lakinya A Yuan bekerja. Di sana, A Yuan hanya bisa memberikan pertolongan pertama untuk memberhentikan pendarahan. Karena darahnya tidak mau berhenti, maka A Yuan menyarakan untuk bawa A Nian ke rumah sakit pusat secepatnya untuk mengadakan operasi darurat. Setelah operasi, A Nian dirawat inap berhari-hari. Saat masih belum siuman dari obat bius, A Nian bermimpi ia mendaki gunung sambil memanggul seorang anak kecil di pundaknya. Setiba di puncak gunung, ia melihat wajah Buddha. Selama masih dalam keadaan mimpi, A Nian terbangun dari biusnya. Orang pertama yang ia lihat adalah suaminya yang setia menjaganya. Setelah A Nian diizinkan keluar dari rumah sakit, kelakuan Song-fu sedikit berbeda dari yang dulu. Saat A Nian ingin sembahyang, ia bantu menyalakan dupanya. Melihat hal langka ini, A Nian tentu terperanjat. Ia pun segera memanfaatkan kesempatan untuk mengajak A Fu ke klenteng bersamanya untuk mengucap syukur bersama. Tapi A Fu tetap menolaknya, bahkan menyebut para dewa adalah orang jahat. Karena beberapa waktu sebelum A Nian sakit, A Fu sering memimpikan Sang Buddha yang memperingatinya untuk vegetarian dan banyak berdoa, jika tidak, keluarganya akan ada bencana. Dari mimpi ini, A Fu merasa mendapat ancaman dari Buddha agar ia mau mempercayai-Nya. Makanya ia tidak mau ikut berdoa.
Karena Song-fu diberi petunjuk dari Dewa untuk jadi vegetarian, A Nian selalu mengingatkan suaminya itu untuk vegetarian. Tapi suaminya yang tidak percaya selalu membantahnya. Suatu hari, setelah makan telur ayam, malam harinya Song-fu diare tanpa henti. Sejak itu, ia baru sadar akan peringatan dari Dewa. Ia pun minta A Nian mempersiapkan perlengkapan sembahyang dan minta ditemani A Nian ke Kuil Kuan-im. Setelah A Nian dan Song-fu sehati dalam ketaatan agama, Bibi A Hao yang telah belasan tahun menjadi tetangga mereka terpaksa harus ikut putranya pindah ke Taipei. Kepergian Bibi A Hao diiringi dengan tangis isak A Nian dan ketujuh anaknya. Waktu berlalu dengan cepat. A Qin yang sangat suka bersekolah akhirnya diterima di SMU. Tapi karena faktor biaya, Song-fu tidak terlalu setuju anak perempuannya sekolah terlalu tinggi. Jika A Qin mau sekolah SMU, ia harus pinjam uang sendiri dengan pamannya. Dan jika kelak ia tidak berhasil masuk perguruan tinggi keguruan, ia tidak mau dibiayai oleh ayahnya. Semua ini adalah beban berat di hati A Qin. Untung saja, A Nian yang ingin anaknya berpendidikan tinggi tidak mau menyerah pada nasib. Ia pun pergi pinjam uang dengan A Yuan untuk biaya pendidikan A Qin. Seiring berjalannya waktu, A Qin sudah 3 tahun duduk di bangku SMU, A Long diterima di SMP Yi Zhong di Taizhong. Ketujuh putra-putri A Nian bertumbuh besar satu demi satu.
Song-fu mulai membuka pintu hatinya untuk Buddha. Ia bahkan sering ke Taipei untuk mengikuti kebaktian doa bersama para saudara seimannya. A Qin yang diberitahukan hal ini oleh ibunya juga serasa tidak percaya. Tapi beginilah adanya, Song-fu bahkan lebih beriman dibanding A Nian. Setiap pagi dan malam ia selalu berdoa. Menurut A Nian, semakin suaminya banyak berdoa, keluarganya memang ada mendapatkan perlindungan, dan usaha di toko Song-fu juga semakin maju. Tapi semua ini hanya berjalan sementara. Suatu hari, Guo-shu, keponakan dari A Nian memohon bantuan pada mereka untuk menjadi penjamin hutang. Dari awal Song-fu sudah tidak setuju dengan hal ini, tapi A Nian yang selalu percaya dengan orang lain menyetujuinya. Karena A Nian sudah setuju, Song-fu pun tidak bisa apa-apa. Tidak lama setelah menjadi penjamin hutang Guo-shu, tiba-tiba terjadi bencana angin topan. Apotek hasil kerjasama dengan rekannya habis tertimpa musibah tersebut. Begitu mendengar hal ini, A Nian bergegas pergi mencari Guo-shu. Tapi sayang sekali, ia terlambat. Guo-shu telah pergi entah ke mana. A Nian dan Song-fu terpaksa harus memikul beban hutangnya. Atas kejadian ini, Song-fu benar-benar putus asa. Ia menyalahkan Buddha tidak melindunginya dan mulai makan daging. Sedangkan A Nian hanya bisa berdoa dan menyalahkan dirinya yang telah membebani seisi keluarganya.
Karena Guo-shu melarikan diri, A Nian dan Song-fu yang menjadi penjamin hutangnya, terpaksa harus memikul beban hutang ini. Pupus sudah harapan A Qin untuk masuk universitas. Saat melihat hasil pengumuman kelulusan A Qin, Song-fu tidak berkata apa-apa, ia hanya memalingkan badannya menuju ke kamar. Sebagai ayah, yang bisa ia lakukan hanya memberikan 40 NTD pada A Qin untuk dibelikan lotere. Jika menang, maka A Qin bisa bersekolah dengan uang undian itu, jika kalah, A Qin harus menerima nasibnya. Setelah A Qin mencoba mengadu keberuntungan itu, tapi hasilnya nihil. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak masuk universitas kelas pagi. Ia mencari pekerjaan di koperasi tani, lalu masuk universitas kelas malam dengan hasil gajinya. A Nian yang selalu memperjuangkan pendidikan anaknya merasa pedih melihat kejadian ini. Tapi apa daya mereka, A Nian dan Song-fu sendiri juga sedang ditagih hutangnya oleh karyawan dari koperasi tani. Karena sudah kehabisan akal, Song-fu memutuskan untuk menjual tanah yang mereka beli setahun yang lalu. Awalnya A Nian sangat tidak setuju dengan keputusan Song-fu, tapi agar hutangnya tidak membengkak, ia terpaksa harus merelakan tanah yang ia beli untuk harta warisan anak-anaknya.
Hutang keluarga A Nian pada bank terlunasi dengan menjual tanah yang mereka beli dengan susah payah. Hutang memang terlunasi, tapi sejak tanah itu dijual, kesehatan A Nian semakin memburuk. Di periksa ke rumah sakit juga tidak ketahuan penyebabnya. Akibatnya, dia harus keluar masuk rumah sakit. Yu-nian berniat menjadi bhiksuni, untunglah suami dan kakak iparnya menemukannya Melihat kesehatan A Nian memburuk, kesehatan Song-fu juga ikut terpengaruh. Tapi semuanya bisa teratasi selama beberapa bulan lamanya. Setelah sembuh, A Nian menjadi penjual sayur keliling. Ia tidak ingin berhutang pada Song-fu, makanya ia mencari uang sendiri untuk menutupi hutang Guo-shu pada Song-fu. Pagi dan sore, A Nian begitu giat menjual sayurnya hingga lupa makan. Melihat keadaan ini, kakak iparnya sangat prihatin. Ia menasehati agar A Nian berhenti berderma supaya ia bisa menabungkan sedikit hasil kerjanya. Tapi A Nian membantahnya, ia rela tidak makan nasi daripada harus berhenti berderma. Walau telah diberi cobaan yang bertubi-tubi, A Nian begitu beriman kepada Buddha. Tidak ada seorangpun yang bisa menasehatinya.
Yu-nian selalu berpikiran untuk menjadi bhiksuni, karena menurutnya dengan begitu baru bisa melepaskan diri dari lautan derita dan membayar semua karma-karma di kehidupan dulu. Waktu berlalu dengan cepat, sekejap mata, A Qin sudah beranjak ke usia yang sudah siap mempunyai teman pria. Di tempatnya bekerja, ada seorang pria yang suka dan ingin menjalani hubungan yang serius dengannya. Pria itu bahkan mau bertemu orangtuanya untuk membuktikan niatnya. Karena merasa bisa dipercaya, akhirnya A Qin pun mulai menjalin persahabatan dengannya. Perubahan tidak hanya terjadi pada diri A Qin. Song-fu terpaksa merelakan kedua muridnya yang telah lulus belajar di tempatnya. Sebelum pergi, kedua muridnya dibekali wawasan dan wejangan yang tak ternilai. Walau sedih meninggalkan Song-fu, tapi bagaimanapun, A Hua dan Kun-ming harus hidup mandiri, karena usia mereka juga sudah tidak muda lagi. Karena sudah tidak punya murid yang membantunya, Song-fu harus mengerjakan semuanya sendiri. Untung saja sekarang A Nian membantu mencari nafkah dengan menjual sayur di pasar untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Atas semua kerja kerasnya ini, ia tidak pernah merasa lelah. Apalagi putra sulungnya A Long kini telah menjadi mahasiswa di universitas negeri. Jerih payah A Nian selama ini sedikit terbayarkan oleh hal yang menggembirakan ini.
Sejak awal, Hui-long sudah meragukan jurusan ilmu perkebunan yang ia ambil di universitas. Tapi ia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan semuanya, ia takut mengecewakan orangtuanya. Setelah berjalan 3 bulan, akhirnya ia tidak tahan. Ia ingin berhenti kuliah dan mengikuti ujian ulang untuk mengambil jurusan ilmu kedokteran. Awalnya, Song-fu begitu marah mendengar hal ini. Tapi akhirnya dia pun mau mendengarkan nasehat A Nian yang sedikit memaksanya untuk setuju. Setelah belajar berbulan-bulan, akhirnya Hui-long berhasil lulus ujian masuk fakultas ilmu kedokteran. Seisi keluarga menyambut bahagia kabar baik ini. Diawali dengan Hui-long yang berhasil masuk fakultas kedokteran, jalan pendidikan anak-anak di keluarga Xie berjalan lancar. A Jin berhasil masuk universitas, Su-zhu berhasil masuk fakultas pendidikan, dan Su-ying berhasil masuk sekolah perawatan. Tapi perjalanan Su-ying tidaklah semulus para kakaknya. Di sekolah, ia sering diremehkan teman-temannya yang kaya. Baju-bajunya juga dibuang ke tong sampah hanya karena dia anak orang miskin. Hal ini membuatnya merasa minder dan merasa ingin bunuh diri.
Ternyata Su-ying dihina oleh teman sekolahnya karena miskin dan bajunya jelek, karena perasaan minder Su-ying, A Long menyalahkan dirinya yang begitu teguh mau masuk fakultas kedokteran. Jika ia tidak begitu teguh, maka pengeluaran orangtuanya akan sedikit, dan adik-adiknya bisa masuk ke sekolah pilihan mereka. Tapi karena dia, Su-zhu harus masuk sekolah pendidikan guru dan Su-ying harus masuk sekolah perawat. Tapi berkat nasehat dari orangtua dan dukungan dari kakak adiknya, Su-ying akhirnya bisa kembali percaya diri dan tidak peduli dengan hinaan yang ia terima dari teman-teman sekolahnya. Setelah lepas dari kekhawatiran adiknya, Su-qin akhirnya memikirkan masa depannya sendiri. Ia menerima lamaran Chun-xiang. Tapi sebelumnya, ia tidak mengizinkan orangtua Chun-xiang datang meminang sebelum Chun-xiang diperkenalkan pada A Nian dan Song-fu. Ia khawatir, jika Song-fu tidak setuju, maka Chun-xiang akan diusir. Tapi kondisinya malah sebaliknya, Song-fu sangat senang mendengar A Qin sudah mau dipinang. Ia baru menyadari, anak-anaknya sudah beranjak dewasa semua, dan dia dan A Nian sudah semakin menua. Yu-nian berikrar untuk memperbaiki atap vihara yang bocor dan meminta Song-fu untuk bertanggung jawab atas projek itu dan dia sendiri bertanggung jawab untuk menggalang dana.
Pacar Su-qin, Bai Chun-xiong datang berkunjung ke rumah, namun setelah bertemu, Yu-nian dan Song-fu buru-buru pergi untuk memperbaiki vihara, sehingga Su-qin mengira mereka tidak setuju. Kerena bekerja terlalu keras merenovasi klenteng, akhirnya badan Song-fu tidak sanggup bertahan lagi, ia pun jatuh pingsan. Sejak jatuh pingsan waktu itu, kesehatan Song-fu tidak bisa sembuh lagi. Ia menderita diabetas sekaligus tekanan darah tinggi. Di rumah, jika ditanyai A Nian atau dinasehati, ia akan marah besar. Setelah itu, kesehatannya akan memburuk. Seisi rumah terpaksa harus mengikuti semua kemauannya. Di saat-saat sakit seperti ini, yang paling Song-fu cemaskan adalah A Nian. Ia takut jika ia meninggal, maka A Nian akan kehilangan sandaran hidup. Ia sadar, anak-anaknya sendiri punya masa depan yang harus diperjuangkan. Melihat keadaan rumah yang begitu susah, A Long semakin menyalahkan dirinya. Ia merasa ia tidak berguna karena tidak bisa membantu keluarganya melewati kesulitan ini. Ia juga menyesali ibunya sampai harus menjual buah pinang di rumah dengan alasan harus sambil merawat ayahnya. Karena tidak tahan lagi, akhirnya A Long pergi ke klinik pamannya bekerja, dan menumpahkan semua perasaan di hatinya. Setelah mendengar cerita A Long, pamannya, A Yuan menjelaskan bahwa mengobati pasien tidak hanya mengobati penyakitnya tapi harus terlebih dahulu menjaga hatinya, menumbuhkan semangat hidupnya dan memberikan nasehat yang positif, agar A Long menemukan kembali rasa percaya dirinya dan tidak menyalahkan diri lagi.
A Rui, salah satu anggota arisan A Nian melarikan diri. Setelah mendapat kabar ini dari A Qin, A Nian segera mencari ke rumah A Rui. Melihat rumah itu kosong, A Nian serasa tidak percaya hal ini akan terjadi. Karena hal ini, A Nian jadi harus menanggung semua kerugiannya. Karena rasa tanggung jawabnya tinggi, A Nian terpaksa harus membayarkan uang dari bagian A Rui. Namun meski hidupnya menderita dan susah, Yu-nian tidak pernah lupa untuk melakukan kebajikan. Tapi kehidupan A Nian tidak hanya dihampiri oleh nasib buruk terus. Putrinya Su-ying menjadi sarjana juara pertama di sekolahnya dan berhasil masuk ke universitas yang bagus. Atas keberhasilan ini, A Nian sungguh bersyukur. Tidak lama setelah itu, hal baik kembali menghampiri A Nian. Song-fu minta A Qin dan Chun-xiang segera menikah. Karena Song-fu sadar akan penyakitnya yang bisa membuatnya meninggal kapan saja dan Su-fen pun memutuskan takkan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, dan akan menggantikan Su-qin untuk membantu ekonomi keluarga.
Akhirnya hari yang bahagia datang juga, A Qin menikah dengan Chun-xiang. Saat A Qin menikah, Song-fu membuatkan perabot sebagai mas kawin. Ia sadar betapa banyaknya A Qin berkorban untuk keluarga, tapi ia sendiri tidak mampu memberikan A Qin apa-apa, ia hanya bisa membuatkan sendiri perabot untuk A Qin. Tidak lama setelah A Qin menikah, Song-fu mulai memikirkan masa depan anak-anaknya. Semua anaknya mengenyam pendidikan yang tinggi, kecuali A Fen yang hanya lulusan SMU. Karena sejak kecil A Fen sudah sering melihatnya membuat perabot, maka Song-fu memutuskan untuk menyerahkan tokonya pada A Fen. Baru saja hendak mengajari A Fen tentang wawasan kayu dan bahan baku lainnya, kayu hinoki mengalami pemberhentian penebangan. Karena tidak ingin memakai kayu hinoki impor, akhirnya Song-fu memutuskan untuk menutup tokonya. Setelah tokonya ditutup, Song-fu membuka toko kertas sembahyang. Karena mengganggur ditambah kesehatannya yang tidak kunjung sembuh, Song-fu menjadi semakin suka mengomel. Sedangkan A Nian, masih seperti dulu, ia kembali menjual sayur dan masih berdoa setiap hari untuk mengurangi karma buruknya dan untuk memohon perlindungan untuk keluarganya. Walau anak-anaknya sudah besar dan A Long sudah menjadi dokter resmi, A Nian masih tetap mencemaskan kehidupan setiap anaknya.
DAAI Drama : Doa dan Ikrar, Episode 17, 28 Juli 2009; Pk. 19.00 wib
Di Taipei, A Long menjadi dokter yang terpercaya. Banyak pasien yang ingin dioperasi olehnya. Dalam bekerja dia sangat jujur, tidak ingin menerima segala bentuk suapan hadiah dari keluarga pasien. Tapi kejujurannya ini malah dianggap bodoh oleh You Qiu-guo yang menjabat suster di sana. Memang tak bisa dipungkiri, walaupun ia selalu bersikap kasar dan suka berbicara apa adanya, A Long sangat suka padanya. Hui-long adalah anak yang berbakti karena selalu mengirimkan gajinya pulang, maka Yu-nian berniat menabung untuk membeli tanah untuk membangun rumah bagi ketiga putranya. Suatu hari, Song-fu dan A Nian datang mencari A Long ke Taipei. Kebetulan sekali mereka bertemu dengan You Qiu-guo. Begitu mendengar You Qiu-guo berbicara, A Nian langsung terperanjat dengan nada bicaranya yang tegas dan suaranya yang kencang. Sepulang dari Taipei, A Nian segera mencarikan jodoh untuk A Long. Dia tidak ingin A Long bersama dengan wanita Taipei yang bicara dengan suara keras. Tapi wanita yang ia carikan tidak sesuai dengan selera A Long.
DAAI Drama : Doa dan Ikrar, Episode 18, 29 Juli 2009; Pk. 19.00 wib
Impian Hui-long adalah bisa berbakti pada orangtuanya dan mendapatkan orang yang bisa memahaminya dan menghabiskan hidup bersamanya. Melihat A Nian yang begitu antusia mencarikan jodoh, akhirnya A Long pun memberanikan diri menyatakan cintanya pada Qiu-guo. Sebelum dibawa pulang ke rumah, A Nian sudah menebak, pasti dialah gadis yang disebut A Long. Setelah bertemu, A Nian tidak begitu senang. Dia tidak suka dengan gadis yang sifatnya begitu periang dan banyak bicara, karena ini bertolak belakang dengan sifat A Long. Karena tidak ada pertanyaan lanjut dari orangtua A Long, Qiu-guo pun sadar orangtua A Long tidak setuju dengan hubugan mereka. Suatu hari, Qiu-guo menyatakan ingin putus dengan A Long. Dia tidak ingin karena dirinya, A Long menjadi anak yang tidak berbakti. Yu-nian jatuh sakit karena mengkhawatirkan masalah pernikahan Hui-long, maka Song-fu menasehatinya bahwa mencari istri itu haruslah yang kepribadiaannya cocok dengan ibunya karena kelak istrinya yang akan mengantikannya untuk berbakti pada orangtua. Tapi A Long sama sekali tidak ingin putus hubungan dengan Qiu-guo. Karena hal ini ia memutuskan untuk ikut tim pengobatan keliling ke luar negeri. Ia ingin mengajak Qiu-guo pergi bersama. Setelah pulang, mungkin pikiran orangtuanya sudah terbuka dan mau menerima hubungan mereka. Tapi Qiu-guo tidak mau berbuat begitu. Menurutnya, jika pernikahan yang tidak direstui tidak akan ada kebahagiaan. Ia pun berencana menolak ajakan A Long.
DAAI Drama : Doa dan Ikrar, Episode 19, 30 Juli 2009; Pk. 19.00 wib
Karena masalahnya dengan Qiu-guo, A Long jadi murung dan jadi jarang pulang ke Caodun. A Nian tahu, masalah ini tidak boleh berlarut. Setelah sembahyang dan bertanya pada guru yang di Taipei, akhirnya dengan hati yang tidak rela, A Nian menyuruh Song-fu mencarikan hari baik. Semula Hui-long dan Qiu-guo mengira masalah mereka telah berakhir seiring pernikahan, tak dinyana ternyata itulah awal dari segala permasalahan. Sebelum menikah, Qiu-guo banyak pertimbangan, ia ingin tetap tinggal di Taipei dan masih ingin mengirim sebagian penghasilannya untuk orangtuanya. A Long yang juga berbakti pada orangtua, tentu saja tidak keberatan dengan permintaan Qiu-guo. Setelah ada kesepakatan, akhirnya mereka menikah. Setelah menikah, mereka segera pulang ke Taipei untuk bekerja. Seperti biasa, A Nian sangat tidak rela melepas kepergian putranya, apalagi pergi bersama wanita yang tidak direstui olehnya. Jika sudah beberapa minggu A Long tidak pulang ke Caodun, A Nian akan menelepon mencarinya. Suatu hari, saat Qiu-guo bertanya apa ibu mertuanya akan memaksa mereka tinggal di Caodun, A Long jadi emosi. Dia sudah lelah bekerja di rumah sakit seharian, setiba di rumah ia masih harus mendengar ocehan dari Qiu-guo yang tiada hentinya. Melihat A Long marah, Qiu-guo hanya kesal dan terus mengomel.
DAAI Drama : Doa dan Ikrar, Episode 20, 31 Juli 2009; Pk. 19.00 wib
A Long dan Qiu-guo pulang ke Caodun dengan membawa kabar gembira. Qiu-guo telah hamil. Di saat-saat kehamilannya, A Long diam-diam mengurus surat mutasi untuk pindah kerja ke Caodun. Ia melakukan semua ini karena merasa orangtuanya sudah tua, dan dia berkewajiban untuk menjaga mereka. Setelah melahirkan, Qiu-guo baru tahu tentang kepindahan A Long. Ia tidak bisa berkata apa-apa, karena dari awal, A Long tak pernah berdiskusi dengannya sama sekali. Ia juga bingung ketika A Nian dan Song-fu menjemputnya untuk menjalani masa nifas di Caodun. Selama menjalani masa nifas, terjadi perselisihan antara A Nian dan Qiu-guo. A Nian tetap dengan pandangan kunonya, sedangan Qiu-guo tetap mempertahankan pandangan zaman sekarang yang ilmiah. Atas kejadian ini, A Long jadi serba salah, ia terjepit diantara kedua wanita yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu, ibu dan istrinya. Setelah selesai menjalani masa nifas, Qiu-guo memutuskan untuk kembali bekerja di Taipei, sedangkan anaknya dan A Long tetap tinggal di Caodun. Walau Qiu-guo tidak tega meninggalkan anaknya, tapi dia lebih tidak ingin lagi tinggal bersama mertua yang berbeda pendapat dan mau mengurus semua hal.
Tidak lama setelah Qiu-guo kembali ke Taipei, Wan-yan, putrinya mengalami demam tinggi. Karena hal ini, A Nian sungguh marah, ia minta Su-fen segera menelepon Qiu-guo. Setelah mendengar putrinya sakit, Qiu-guo pun bergegas pulang ke Caodun. Melihat anaknya yang lucu, sakit, Qiu-guo pun bergegas pulang ke Caodun. Melihat anaknya yang lucu, berat hati Qiu-guo meninggalkannya lagi. Tapi ia sendiri masih tidak ingin tinggal di Caodun, karena merasa berbeda pandangan dengan mertuanya. Akhirnya kesempatan yang ditunggu-tunggu A Long datang. Dokter Lo berhasil mencarikan Qiu-guo pekerjaan di Taizhong. Oleh karena itu, Qiu-guo pun memutuskan untuk pindah pulang ke Caodun demi suami dan putrinya. Saat tinggal dengan mertua, Qiu-guo harus membantu pekerjaan rumah, A Nian tidak mengizinkan ia mengepel dengan alat pel dan mencuci baju dengan mesin cuci. Ia pun bekerja dengan kelelahan. Suatu hari, melihat pekerjaan A Long yang di RS begitu melelahkan, akhirnya A Nian memutuskan untuk menyekat rumahnya menjadi sebagian tempat praktek A Long. A Long tentu saja senang mendengar hal ini, karena ini juga impiannya sejak dulu. Tapi A Long tetap tidak mau melepaskan pekerjaannya di RS, karena pendapatannya akan lebih stabil. Oleh karena itu, A Long memutuskan buka praktek di rumahnya hanya untuk pelayanan sosial.
Karena tidak mau Qiu-guo begitu lelah, A Long minta dia berhenti kerja untuk membantunya di rumah. Tapi Qiu-guo tidak mau, karena ia tidak ingin terus bertemu mertua. Qiu-guo tidak melarang A Long membuka tempat praktek, tapi ia sendiri juga tidak mau membantu di tempat praktek A Long. Ia ingin punya penghasilan sendiri dan punya kebebasan sendiri. Setelah bangunan di rumahnya selesai, akhirnya A Long bisa membuka tempat praktek. A Long dan Qiu-guo masing-masing sibuk hingga jarang bisa berbicara. Qiu-guo merasa dirinya sudah tidak tahan lagi, saat kerja malam di rumah sakit ia sering mengantuk dan tertidur. Suatu hari, melihat Qiu-guo yang begitu lemas, teman kerjanya pun mengajaknya pergi medical check up bersama. Qiu-guo terkejut sekali mengetahui dirinya hamil lagi. Melalui kesempatan ini, A Long kembali menasehatinya untuk berhenti kerja. Tapi Qiu-guo tetap belum mau berhenti kerja. Masalah kesehatannya juga menjadi kecemasan A Nian. A Nian merasa saat sedang hamil Wan-yan, Qiu-guo kurang memperhatikan kesehatannya sendiri sehingga Wan-yan sering sakit dan daya tahan tubuhnya lemah. Ia tidak ingin hal serupa menimpa cucu keduanya. Tapi apalah daya A Nian, ia hanya bisa menasehati, karena Qiu-guo tetap tidak ingin berhenti kerja.
DAAI Drama : Doa dan Ikrar, Episode 23, 3 Agustus 2009; Pk. 19.00 wib
Qiu-guo masih saja bergelut diantara kedua mertuanya. Ayah mertuanya, Song-fu menyalahkan Qiu-guo hanya berpikir demi kepentingannya sendiri. Gaji dari hasil kerjanya hanya bisa diberikan pada keluarganya, tidak diberikan kepada A Long untuk modal buka praktek. Menurut Song-fu, suami istri harus saling membantu dalam membuka usaha, seperti dulu A Nian yang telah banyak membantu dirinya. Tapi, zaman sudah berubah, Qiu-guo merasa dirinya harus punya tabungan sendiri. Agar kelak jika ada keperluan mendadak, dia tidak perlu pinjam dengan orang lain lagi, apalagi harus meminta pada Song-fu. Karena tidak ingin berhenti bekerja, maka Qiu-guo harus mencari jalan lain agar mertuanya merasa puas dan yakin pada dirinya. Sejak hari itu, ia selalu menuruti apa kata ibu mertuanya, bahkan mau masak lauk apapun ia minta ijin dulu pada A Nian. Setelah masak, ia tidak langsung duduk makan bersama mereka, ia baru mau makan setelah kedua mertuanya selesai makan. Ia juga lebih sering mengucapkan terima kasih pada kedua mertuanya. Hal ini mendatangkan kejanggalan di mata Su-fen dan Su-zhu yang akan segera menikah. Hubungan Qiu-guo baru saja baik dengan kedua mertuanya, tapi sepertinya perselisihan akan datang lagi. Ayah mertuanya meminta Qiu-guo berhenti bekerja karena Wan-yan dan Zong-ru sering sakit. Sedangkan Qiu-guo harus bekerja di malam hari dan tak bisa menjaga mereka. Karena hal ini, Song-fu pun minta agar A Long membicarakan hal ini dengan Qiu-guo. Atas kejadian ini, Qiu-guo juga takut hubungan baik yang baru saja berhasil dibinanya akan sirna begitu saja.
Karena Wan-yan dan Zong-ru sering sakit, A Nian menganjurkan pada Qiu-guo untuk mengajak kedua cucunya ke klenteng. Menurut A Nian, mungkin saja, atas berkah Buddha, cucunya bisa sembuh. Awalnya Qiu-guo kurang begitu setuju dengan padangan ibu mertuanya, tapi demi untuk menjaga hubungan yang baik, ia harus mendengarkan ucapan ibu mertuanya. Sekian tahun telah berlalu, A Nian dan Song-fu sudah menjadi menua, A Long dan Qiu-guo juga sudah menjadi orangtua yang dewasa. Suatu hari, di RS tempatnya bekerja, Qiu-guo diberi satu set kaset ceramah Master Cheng Yen dari istri Dokter Chen. Karena tidak bisa mengelak, Qiu-guo terpaksa menerimanya. Setiba di rumah, Qiu-guo memberikan kaset itu kepada A Nian. Setelah mendengarnya, A Nian menjadi mengerti bahwa Bodhisattva bukanlah hanya berada di rupang yang ia sembah, tapi juga ada di dunia ini. Dengen segenap upaya, A Nian mengulurkan tangannya untuk membantu orang lain. Jalinan jodohnya membawanya ke Hualian, Griya perenungan Master Cheng Yen. Setiba di sana, A Nian mendengar kabar bahwa Master sedang mengumpulkan dana untuk membangun RS yang bertujuan untuk memudahkan warga pedalaman untuk berobat. Setelah mendengar ini, A Nian langsung berikrar untuk membantu Master mencari anggota derma tersebut.
Yu-nian berniat berdana sebuah kamar pasien untuk Master Cheng Yen, maka Song-fu membantunya. Yu-nian juga mulai menggalang dana dari orang-orang yang ditemuinya untuk membantu pembangunan RS Tzu Chi. Yong-hui seorang pedangan daging bebek di pasar menikah dengan A Yu yang berjodoh dengan Yu-nian, yang mengajarinya baca Sutra. Yong-hui yang tempramental selalu saja mabuk-mabukkan dan berkelahi dengan orang lain, sehingga istrinya A Yu selalu saja bersedih. Setelah berkunjung ke Griya perenungan, A Nian mulai mencari dana amal untuk membantu pembangunan rumah sakit. Kehidupannya kembali seperti dulu, demi mencari dana amal, A Nian selalu pulang malam. Hal ini membuat Song-fu cemas sekaligus kesal. Suatu hari, Song-fu memutuskan untuk menjadi biksu. Melihat A Nian telah menemukan jalan yang tepat untuk membina diri, dia merasa dirinya tidak berguna, karena kesehatannya yang buruk ia hanya bisa berdoa dan melafal sutra, tidak bisa menolong orang lain melalui tindakannya seperti yang dilakukan A Nian. Mendengar Song-fu mau menjadi biksu, A Nian dan A Long sangat bersedih, dan melarangnya pergi. Karena tidak ingin ayahnya meninggalkan keluarga, A Long berjanji akan membeli tanah dan membangunkan sebuah rumah agar ayahnya bisa membina diri dengan tenang di rumah tersebut. Karena hal ini, Qiu-guo yang selama ini belajar bersabar, akhirnya angkat suara juga. Ia tidak suka A Long yang terlalu memaksa untuk beli tanah dan bangun rumah, karena keadaan keuangan mereka hanya pas-pasan. Tapi ia tidak bisa apa-apa, ia hanya bisa menurut dan mendengarkan pendapat A Long. Begitu mendengar A Long mau membuatkan rumah, Song-fu pun mengurung niatnya untuk menjadi biksu. Tapi, ia tetap mengkhawatirkan A Nian yang sering membuat ulah sejak muda dulu. Ia takut A Nian tertipu lagi karena kepolosannya.
Dari muda hingga setua ini, Song-fu selalu mencemaskan istrinya yang sering bepergian keluar rumah. Kali ini, Song-fu lebih khawatir lagi dengan A Nian yang sering pulang larut malam karena mencari dana amal. Su-ying yang karena prestasinya baik maka RS tempatnya bekerja memberinya cuti untuk melanjutkan sekolah ke Amerika. Beberapa hari sebelum pindah ke rumah baru, Song-fu menyerahkan kunci kotak deposit untuk disimpan A Nian. Ia ingin kelak disisa hidup A Nian ada jaminan keuangan. Setelah pindah ke rumah baru, Song-fu memulai membina diri dengan berkonsentrasi membaca buku sutra, ia tidur di kamar yang terpisah dengan A Nian. Ia ingin melepaskan semua masalah duniawinya. Qiu-guo turut bersedih hati melihat ibu mertuanya yang begitu mencemaskan ayah mertuanya. Tapi ia tidak berdaya menasehati ayah mertuanya, karena ia telah memilih jalan membina diri yang berbeda dari ibu mertuanya. A Nian sendiri merasa kagum dengan suaminya yang dengan gampang bisa melepaskan semua hal duniawinya. Sedangkan ia lebih memilih membina diri di dunia fana, ia ingin menjadi bodhisattva hidup yang sering disebut oleh Master Cheng Yen.
Suatu hari, A Nian mengajak menantunya, Qiu-guo untuk berkunjung ke RS di Hualian sekaligus ke Griya Perenungan Master Cheng Yen. Setiba di RS Tzu Chi di Hualian, Qiu-guo serasa tidak percaya, bahwa RS itu adalah hasil kerja keras Master dan seluruh warga Taiwan, ia pikir, hanya pemerintah dan perusahaan besarlah yang mampu membangun RS sebesar itu. Setelah ke Griya Perenungan, Qiu-guo lebih tidak percaya lagi melihat tempat tinggal Master yang begitu sederhana. Ia merasa, seseorang yang mampu memimpin banyak anak murid hingga bisa mendirikan RS adalah seorang yang hebat dan hidupnya pasti sangat diistimewakan. Tapi kenyataannya tidak begitu. Sepulang dari Hualian, Qiu-guo mulai mengumpulkan dana amal dari teman-teman dekatnya yang bekerja di RS. A Nian sangat senang melihat menantunya bisa ambil bagian dalam mencari dana amal. Setelah beberapa tahun bekerja, Su-ying mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikannya ke Amerika. Song-fu sangat senang dan terharu, dia yang selama muda hidup susah, serasa tidak percaya dengan apa yang dimilikinya sekarang. Tapi, karena kondisi kesehatan Song-fu yang semakin memburuk, membuat Su-ying ragu akan keberangkatannya. Dia berunding dengan ibunya apa harus menunda keberangkatannya. Tapi A Nian malah mendukungnya pergi. Menurut A Nian takdir yang sudah digariskan janganlah diubah. Akhirnya Su-ying pun meninggalkan Taiwan dengan perasaan yang sedih sekaligus sangat berharap untuk pendidikannya. Karena tidak mau menjadi penghalang pendidikan putrinya, Song-fu berjanji akan menjaga kesehatannya dengan baik. Ia juga berjanji akan menunggu Su-ying membawanya ke Amerika dan ingin Su-ying mengajaknya jalan-jalan ke Disneyland.
Song-fu sangat senang ketika mau diajak berziarah ke Niberia. Seperti anak kecil yang ingin pergi berpiknik, Song-fu dan A Nian mempersiapkan segala keperluannya, hingga dihitung berulang kali apa ada barang yang ketinggalan. Tapi sayang sekali, beberapa hari sebelum berangkat, Song-fu jatuh pingsan. Menurut dokter, Song-fu pingsan karena terlalu lelah, sehingga ia tidak bisa ke Niberia. Setelah mendengar pernyataan ini, Song-fu kecewa sekali, dan bertanya pada A Nian apa akan pergi ke Niberia tanpa dirinya. Dengan lantang A Nian menjawab iya, ia ingin pergi lebih dulu untuk memohon berkah agar Song-fu bisa dibebaskan dari penyakit. Beberapa hari setelah A Nian pulang dari Niberia, penyakit Song-fu kambuh lagi. Kali ini lebih parah, ia terserang uremia yang paling ditakuti keluarganya. Sejak dirawat di rumah sakit dan tahu kondisi yang sebenarnya, Song-fu mengalami tekanan jiwa yang sangat besar. Setiap malam ia bermimpi banyak pengawal langit yang datang menjemputnya, bahkan mengajaknya berbicara. Karena itu, Song-fu selalu terjaga di malam hari, ia tidak berani tidur. Kalaupun tidur, ia sering berteriak dengan ketakutan. Suatu malam, saat A Long menemaninya tidur, ia minta agar A Long mengeluarkan setelan jasnya dari lemari pakaian. Ia minta A Long menggantungkannya di tempat gantungan baju dan akan membersihkannya sendiri. Keesokan harinya, saat membangunkan A Long, A Nian mendapati badan ayahnya dingin serta tak sadarkan diri.
Song-fu telah meninggal dunia. Anak-anak serta menantunya sangat tidak merelakan kepergiannya, terutama A Nian, istri yang sudah menemaninya dalam susah dan senang selama puluhan tahun. Sejak Song-fu meninggal, A Nian mengurung diri di ruang berdoa, dia tidak ada nafsu makan bahkan tidak bisa tidur. Ia menghentikan semua aktivitasnya, termasuk menjual sayur untuk mendapatkan dana amal. Suatu hari, Qiu-guo mencari akal agar ibu mertuanya mau keluar rumah. Ia menyuruh A Nian mengajarinya memotong sayur yang di kebun depan rumahnya. Karena sayur-sayur itu sudah dipotong, maka mau tidak mau A Nian harus membawanya ke pasar. Karena jika tidak, sayur itu akan membusuk, dan A Nian tidak ingin mubajir. Saat itulah, A Nian kembali bersemangat menjalani aktivitasnya seperti dulu lagi. Ia bahkan menjadi relawan di rumah sakit Hualian, dan dengan giat mengerjakan misi pelestarian lingkungan yang digalang oleh Master Cheng Yen. Bersama dengan Qiu-guo, A Nian selalu merapikan dan membersihkan sampah-sampah yang dibawa pulang. Suatu hari, Yan-yu memintanya untuk mencari akal agar suaminya, A Feng, tidak mabuk bersama teman-temannya lagi. Sejak menikah hingga punya anak, A Feng tiada hari tanpa minum arak, sekali minum sampai mabuk baru pulang ke rumah. A Nian pun terpikirkan satu cara yang baik. Ia minta tolong pada A Feng untuk mengatarkan kardus dan sampah lainnya ke pos daur ulang. Awalnya A Feng menolak, tapi berkat rayuan istrinya dan A Nian, akhirnya dia bersedia juga. Setiba di pos daur ulang, A Feng hanya menunggu di mobil. Ia tidak mau membantu A Nian menurunkan barang-barang. Saat dia mau pulang, A Nian juga mengantarnya dengan sikap beranjali. Tapi hati A Feng belum juga tersentuh.
Semakin hari, A Nian semakin giat melakukan pekerjaannya di Tzu Chi, begitu juga dengan mencarikan anggota baru. Ia sangat tertarik mengajak A Feng untuk bergabung. Ia sering mengajak A Feng pergi ke pos daur ulang dan memaksanya mengambil sampah di tengah jalan. Awalnya A Feng merasa perbuatan ini sangat memalukan dan sering menolak ajakan A Nian untuk mengajaknya mengerjakan daur ulang. Tapi lama kelamaan, A Feng menjadi sadar dan mulai mengubah pandangannya terhadap pekerjaan yang dikerjakan A Nian. Suatu hari, ia bahkan memutuskan satu hal yang sangat mengejutkan A Nian, yaitu menyumbangkan mobil bekasnya untuk pos daur ulang di Tzu Chi. Setelah mendengar kabar ini, A Nian senang sekali, ia telah berhasil menambah seorang murid Guru yang bisa membantunya berbagi beban berat. Berkah yang ditanamkan A Nian sepertinya membuahkan hasil untuk anak-anaknya. A Long ditawarkan menjadi pemimpin RS baru yang akan dibangun pengelola RS tempat ia bekerja sekarang. Mendapatkan tawaran yang sebaik ini, tentu saja A Long sangat terperanjat dan agak meragukan kemampuannya sendiri. Tapi kepala bagiannya sangat yakin bahwa A Long mampu mengelola rumah sakit itu dengan baik.
Saat sedang menunggu kereta api pulang dari Hualian, A Feng merasa seragam biru putih Tzu Chi begitu berwibawa. Mendengar perkataannya ini, A Nian pun mengambil kesempatan dan memberikan satu setel padanya. Setelah ia kenakan seragam itu, A Nian langsung memberinya buku donasi dan menyuruhnya ikut pelatihan untuk bergabung di barisan Tzu Cheng. Tapi A Feng merasa belum siap, dan A Nian terpaksa membimbingnya secara perlahan. Tapi di dalam bimbingannya, A Feng berhenti minum minuman keras dan ikut A Nian pergi survei kasus. Ternyata A Feng menyalahkan ibunya karena menyebabkan kakinya cacat karena polio, namun Yu-nian menasihatinya bahwa semua orangtua menyayangi anaknya, dan tidak ada mantan orangtua, yang ada hanyalah anak yang tidak berbakti. Suatu hari, A Feng memberitakan kabar baik kepada A Nian, istrinya, Yan-yu sedang mengandung anak kedua mereka. A Nian mengatakan sesuatu yang membuat A Feng senang, yaitu, berkat amal A Feng, Buddha akan melindunginya dengan seorang putra. Setelah mendengar kata ini, A Feng langsung berjanji ingin menjamu A Nian makan besar jika ini adalah kenyataannya. Tapi A Nian yang cerdas mengubah jamuan makan besar itu menjadi sebuah kesepakatan. Jika Yan-yu melahirkan seorang putra, maka A Feng harus ikut pelatihan untuk menjadi barisan Tzu Cheng. Karena sangat menginginkan seorang putra, maka A Feng segera mengiyakan kesepakatannya dengan A Nian.
DAAI Drama : Doa dan Ikrar, Episode 32, 12 Agustus 2009; Pk. 19.00 wib
Saat mengumpulkan barang bekas, A Nian mendengar orang lain berkata bahwa putranya tidak berbakti sehingga membiarkan orangtua pergi ke berbagai tempat untuk mengumpulkan barang bekas. Saat di rumah, A Nian bertanya pada Qiu-guo, apa ia merasa malu dan terganggu karena ibu mertuanya mengumpulkan barang bekas ke berbagai tempat. Tapi A Nian malah memperoleh jawaban yang sebaliknya, Qiu-guo malah mendukung penuh atas pekerjaannya ini. A Nian sungguh senang mendengar jawaban dari menantunya ini. Di lain tempat, A Feng sedang ingin bertobat pada ibunya karena mendengar nasehat A Nian. Saat mengadakan jamuan makan untuk putranya yang genap berusia sebulan, A Feng minta maaf pada ibunya di depan para tamu. Awalnya rasa penyesalan A Feng di tolak oleh ibunya, karena merasa A Feng tidaklah mungkin merasa menyesal dari lubuk hatinya. Akhirnya Yan-yu yang sedang menggendong putranya pun ikut berlutut di depan kamar ibunya. Setelah melihat niat hati dari A Feng dan Yan-yu, akhirnya ibu A Feng pun mau menerima pernyataan maaf dari putranya. Setelah menjadi anggota barisan Tzu Cheng sesuai janjinya pada A Nian karena sudah merestuinya melahirnya seorang putra, A Feng semakin giat ikut kegiatan di Tzu Chi, terutama pergi survei kasus. Melihat perubahan A Feng, A Nian merasa bangga terhadap A Feng sendiri. Atas semua kebaikan yang ia lakukan, A Nian boleh dikatakan telah banyak memperoleh berkah. Saat sembahyang, putranya Hui-long menyampaikan berita yang gembira untuk dirinya. Hui-long diangkat menjadi kepala RS di Zhusan yang baru dibangun oleh komisaris tempat RS ia bekerja dulu. Ia diberi kepercayaan penuh untuk menjalani rumah sakit baru itu.
DAAI Drama : Doa dan Ikrar, Episode 33, 13 Agustus 2009; Pk. 19.00 wib
Dengan susah payah A Nian berusaha meyakinkan A Feng untuk bergabung dalam barisan Tzu Cheng, tapi disaat rapat di pos daur ulang, A Feng kembali kepada sikapnya yang pemarah. Saat itu juga, ia melepaskan seragamnya dan mengatakan ingin mengundurkan diri. Beberapa hari setelah menyatakan ingin mengundurkan diri, A Feng bermimpi Master Cheng Yen mendatanginya ke rumah dan mengatakan dirinya seperti anak kecil karena suka marah-marah. Setelah memimpikan Master, A Feng pun kembali aktif mengerjakan daur ulang. Setelah A Feng keluar dari masalah, kini giliran A Nian yang menghadai masalah. Saat hendak pulang ke rumah, A Nian hampir saja tertabrak mobil karena ia berjalan dengan mengantuk. Setiba di rumah, Hui-long dan Qiu-guo melarangnya pergi untuk beberapa hari. Tapi A Nian yang selalu ingin membantu Guru malah melarikan diri dan pergi hingga malam. Akhirnya Qiu-guo dan Hui-long pun memikirkan cara agar ibunya bisa membantu Tzu Chi dengan aman. Qiu-guo terpikirkan cara untuk meminta A Nian berpidato di sekolahnya ia bekerja.
Setelah mengikuti pelatihan selama 3 tahun, akhirnya A Feng memenuhi syarat untuk dilantik menjadi anggota barisan Tzu Cheng. Satu malam sebelum acara pelantikan, A Feng mengulangi kebiasaan buruknya, yaitu pergi minum minuman keras dengan teman-temannya. Keesokan harinya, saat di acara pelantikan, Master pun mengetahui kejadian ini. Tapi dengan bijaksana Master tetap melantiknya dan tidak ingin memutuskan kesempatan baiknya untuk berbuat baik. Suatu hari, terjadi gempa hebat di Turki. A Nian dan semua insan Tzu Chi dengan sigap mengadakan penggalangan dana. Di saat menggalang dana, A Nian baru sadar, ternyata susah sekali untuk menggerakkan hati manusia. Selama menggalang dana, ia banyak dikomentari oleh orang yang merasa tidak perlu menolong negara yang begitu jauh dari Taiwan. Tapi A Nian menghadapi semua komentar ini dengan hati yang bijak. Ia tetap teguh dan semakin gigih untuk menggerakkan hati orang lain yang membedakan ras, suku dan bangsa di dalam memberikan pertolongan.
Gempa 921 di Taiwan terjadi pada pukul 01.47 subuh, dan berskala 7.3 skala ritcher. Kondisi bencana sungguh parah, Yu-nian segera bergabung dengan tim Tzu Chi untuk membantu para korban bencana. Saat Hui-long bisa mencapai RS Zhu Shan Xiu Chuan, dia mendapati semua pasien dan para medis berkumpul di tempat parkir, karena kondisi bangunan RS telah rusak parah. dan para investor itu memutuskan untuk menutup RS itu. Setelah mendengar hal ini, Hui-long hanya bisa termenung, entah harus melakukan apa. Qiu-guo juga segera pergi ke sekolah untuk mengobati korban bencana. Setelah mendengar berita di radio, Yong-hui baru tahu kalau kalau rumah keluarga Yu-nian di desa Zhong-liao rubuh, pamannya sekeluarga juga telah meninggal, dia sangat berduka, Yu-nian pun menasehatinya agar tegar dan harus menghibur Yan Yu.
Demi membantu korban bencana, Hui-long senantiasa mencari bantuan dari luar, Qiu-guo mengalang dana di jalanan dan Yu-nian mengikuti Yong-hui ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan. Meski langkah mereka berdua tidaklah sempurna, namun jejak mereka membekas dalam di hati para korban. Para tentara yang melakukan penggalian demi mencari korban yang tertimbun reruntuhan, meminta gelang pemberian Master dari Yu-nian untuk dijadikan kekuatan dan menenangkan hati mereka. Qiu-guo mencarikan pekerjaan di RS lain bagi Hui-long karena tidak tega melihatnya gundah, namun Hui-long bersikukuh akan membangun kembali RS Zhu Shan Xiu Chuan.
Setelah pasca gempa, para korban hidup dengan seadanya, ada yang belum bisa menerima kenyataan, ada juga yang bisa membuka pikirannya. A Nian, Qiu-guo dan Hui-long, masing-masing mempunyai kecemasan. Selain lebih giat mencari dana amal untuk membantu Master, A Nian juga kuatir pada Hui-long yang selalu mencemaskan masalah di rumah sakitnya hingga tidak bisa tidur dan menjadi semakin kurus. Begitu juga dengan Qiu-guo, ia juga sangat mengkuatirkan keadaan suaminya itu. Suatu hari, berkat kegigihannya, akhirnya Hui-long mendapatkan simpati dari sebuah perusahaan ekspedisi laut. Ekspedisi itu rela meminjamkan gudangnya untuk dijadikan rumah sakit darurat. Setelah mendengar hal ini, A Nian dan Qiu-guo turut berbahagia. Kini, masalah Hui-long telah selesai, tinggal Qiu-guo dan A Nian yang kuatir akan dana untuk proyek harapan Tzu Chi. Saat sedang makan, Qiu-guo pun terpikir satu cara yang baik, yaitu menjual bakpao dan bacang vegetarian, dan hasilnya akan disumbangkan semua untuk proyek harapan tersebut.
Yong-hui dan Jin-zhen beserta segerombolan relawan Tzu Chi bekerja keras tanpa kenal lelah membangun rumah tinggal sementara, demi misi menanggung derita bersama. RS Zhu Shan Xiu Chuan dalam bentuk gabungan banyak kontainer akhirnya berhasil beroperasi kembali berkat bantuan dari berbagai pihak. Meski fasilitasnya terbatas, namun untuk sementara cukup memadai untuk mengatasi masalah medis di lokasi bencana. Dalam waktu 2 bulan Rumah Cinta Kasih I dan II selesai dibangun, dan memberikan harapan baru bagi 5000 lebih keluarga. Su-qin, Su-zhu dan Su-fen yang berniat menghibur Yu-nian yang berduka karena banyak sahabatnya yang meninggal karena bencana kali ini, malah diminta ikut membantu pekerjaan di kebun sayur. Tak sampai setahun projek pembangunan RS diselesaikan dengan bantuan tanpa pamrih dari banyak pihak, namun dia malah memutuskan untuk berhenti menjadi kepala RS. Yu-nian mengajak Hui-long ikut mengumpulkan dana amal dan melakukan daur ulang, juga memberitahunya bahwa hidup itu harus bekerja, tidak boleh malas-malasan. Setelah ikut ibunya pergi berjualan, Hui-long baru bisa merasakan kesibukan ibunya selama ini.
Sejak pensiun dari jabatan kepala RS, Hui-long menjadi murung dan terlihat tidak gembira. Suatu hari, Qiu-guo dan A Nian menyusun skenario agar Hui-long mau ikut baksos pengobatan ke Indonesia. Awalnya Hui-long menolak, tapi berkat desakan A Nian dan Qiu-guo, akhirnya ia pun berangkat. Sepulang dari Indonesia, ia menceritakan keadaan di sana. Setelah tahu keadaannya begitu parah, A Nian ingin sekali ikut baksos pengobatan ke luar negeri. Tapi sayangnya ia tidak diijinkan pergi karena usianya yang sudah tua. Saat ulang tahun, semua anak-anak A Nian berkumpul bersama beberapa anggotanya di Tzu Chi. Saat meniup lilin, A Nian mengucapkan tiga permohonan, yang salah satunya adalah ingin ikut baksos pengobatan. Walau dinasehati bagaimanapun, A Nian tetap ingin ikut dalam baksos pengobatan. Karena dalam 4 misi Tzu Chi, hanya baksos pengobatan ke luar negeri yang belum ia jalani. Qiu-guo dan Hui-long terpaksa mencari jalan agar permohonan ibunya terkabul.
Catatan
Ibunda = Hong Yu-nian
Ayahanda = Xie Song-fu
Su-qiong = putri sulung
Su-qin = putri kedua
Hui-long = putra sulung
Hui-jin = putra kedua
Su-zhu = putri ketiga
Su-ying = putri keempat
Su-fen = putri kelima
Han-qing = putra bungsu
Hadi,
24/04/2009