DAAI-Drama

 

 

Namaku A Tou

Drama DAAI :

Drama Kisah Nyata " Senandung Mutiara Hati "

"Sisa Hidup yang bertumpuh siksa, Di penantian kan terbit harapan, Seyakinku dalam Kesabaran"

Tayang Perdana mulai 31 Juli 2010 sampai 29 Agustus 2010.
Tayang setiap Sabtu dan Minggu pk. 21.00 WIB,
Re-Run Minggu & Senin pk. 09.00 & 16.00 WIB

Cerita dibuka dengan suasana Enjah dan keluarga yang sedang bertamasya di Pantai Mauk, Tanjung Kait, Tangerang. Tak disangka Enjah bertemu dengan salah seorang teman lamanya. Sukarta, suami Enjah, tidak suka dan cemburu melihat Enjah bertegur sapa dengan laki-laki lain.

Sukarta bekerja sebagai mandor bangunan. Enjah yang ingin membantu perekonomian keluarga berjualan baju dan alat elektronik sederhana secara sembunyi-sembunyi, walau pernah ketahuan dan dimarahi habis-habisan oleh sang suami.

Suatu ketika Enjah menjemput anak-anaknya yang sedang belajar mengaji. Saat itu hujan cukup deras, dan Enjah terjatuh. Enjah kemudian sakit dan tak mampu berjalan. Enjah kemudian menjalani aneka pengobatan, dari pengobatan medis hingga ke dukun. Sesaat Enjah seolah sembuh, namun kemudian sakit lagi.

Kondisi Enjah yang tak kunjung membaik membuat Sukarta yang memang jarang pulang ke rumah semakin tidak betah di rumah. Rumah pun berantakan, dan anak-anak Enjah menjadi tak terurus. Untunglah ketiga anak Enjah seolah tersadarkan untuk berbagi suka dan duka dengan ibunda tercinta. Dede, Adit dan Indah, ketiga anak Enjah, lalu mengurus rumah tangga dan bahkan merawat ibu mereka yang sakit.

Duka semakin pilu ketika Sukarta tak lagi pulang ke rumah. Hutang kontrakan yang berkepanjangan membuat Enjah dan anak-anak harus pindah ke rumah Umi, ibunda dari Enjah. Hari-hari kelam Enjah dan anak-anak semakin panjang, mulai dari persoalan biaya sekolah anak-anak yang tertunggak hingga biaya hidup yang semakin sulit.

Saat bulan puasa tiba, anak-anak Enjah sahur dengan segelas air putih, dan berbuka puasa dengan sisa makanan sahur dari masjid. Enjah sedih melihat anak-anaknya, namun tak berdaya. Penyakit Enjah tak kunjung membaik, bahkan kedua tangan Enjah pun tak dapat digerakkan lagi. Enjah lumpuh total. Terbersih keinginan untuk bunuh diri di kala duka yang tiada henti, namun semangat hidup Enjah muncul kembali melihat ketiga anaknya yang berbakti. Hari terus bergulir.

Di ujung duka, setitik harapan hidup Enjah muncul kembali ketika bertemu dengan relawan yang ingin membantu pengobatannya. Dengan semangat, kesabaran dan ketegarannya, Enjah akhirnya mampu bangkit dari keterpurukan hidupnya. Enjah bahkan mampu memberi inspirasi bagi mereka yang berputus asa dalam hidupnya.