DAAI Refleksi
Jejak Pengabdian Haji Sajali
daai-refleksi

Demi kampung halaman, mungkin itulah yang menjadi moto seorang Haji Sajali. Warga asli Pangandaran ini, membantu petani dengan memaksimalkan sumber air yang ada untuk kepentingan pengairan. Seperti yang dilakukannya di Desa Mangguluwuk. Sebuah terowongan yang menembus gunung mengalirkan air dari sungai Cimedang dan mengairi area persawahan di lebih dari dua desa yang termasuk tadah hujan.
Terowongan yang dibuat pada tahun 80-an, masih berfungsi hingga saat ini. Panen yang umumnya dilakukan dua kali setahun, kini bisa mencapai tiga kali setahun. Hal ini pun berimbas pada peningkatan ekonomi warga.
Setidaknya sekitar 13.000 hektar area persawahan di Pangandaran, termasuk di dalamnya sawah irigasi dan tadah hujan, baru memaksimalkan 25% dari potensi sumber air yang ada. Di samping itu, terdapat 275.212 rumah tangga yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Hal ini membuat seorang Haji Sajali terus berupaya meningkatkan pemanfaatan sumber air agar sawah tadah hujan pun, bisa mengalami peningkatan masa panen. Seperti yang terjadi di Desa Mangguluwuk.
Pertanian memang bergantung pada air. Kesadaran itulah yang kemudian menjadi kearifan lokal tersendiri bagi Haji Sajali untuk kemudian membangun kampung halaman dari hal yang paling ia cintai, yakni pengairan.