Logo
tv
"Yang terindah di langit adalah bintang-bintang, yang terindah di bumi adalah cinta kasih". -Kata Perenungan Master Cheng Yen-
DAAI Refleksi
daai-refleksi

Episodes

| Jejak Toleransi, tayang 11 Januari 2017
Program Refleksi tayang setiap Hari Rabu pukul 19.30 WIB. Hanya di DAAI TV.
| Sisi Lain Jakarta, tayang 04 Januari 2017
Program Refleksi tayang setiap Hari Rabu pukul 19.30 WIB. Hanya di DAAI TV.
| Menjaga Hulu, Merawat Hilir, tayang 07 Desember 2016
Program Refleksi tayang setiap Hari Rabu pukul 19.30 WIB. Hanya di DAAI TV.
| Jejak Pengabdian Haji Sajali, tayang 21 September 2016

Demi kampung halaman, mungkin itulah yang menjadi moto seorang Haji Sajali. Warga asli Pangandaran ini, membantu petani dengan memaksimalkan sumber air yang ada untuk kepentingan pengairan. Seperti yang dilakukannya di Desa Mangguluwuk. Sebuah terowongan yang menembus gunung mengalirkan air dari sungai Cimedang dan mengairi area persawahan di lebih dari dua desa yang termasuk tadah hujan.
Terowongan yang dibuat pada tahun 80-an, masih berfungsi hingga saat ini. Panen yang umumnya dilakukan dua kali setahun, kini bisa mencapai tiga kali setahun. Hal ini pun berimbas pada peningkatan ekonomi warga.
Setidaknya sekitar 13.000 hektar area persawahan di Pangandaran, termasuk di dalamnya sawah irigasi dan tadah hujan, baru memaksimalkan 25% dari potensi sumber air yang ada. Di samping itu, terdapat 275.212 rumah tangga yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Hal ini membuat seorang Haji Sajali terus berupaya meningkatkan pemanfaatan sumber air agar sawah tadah hujan pun, bisa mengalami peningkatan masa panen. Seperti yang terjadi di Desa Mangguluwuk.
Pertanian memang bergantung pada air. Kesadaran itulah yang kemudian menjadi kearifan lokal tersendiri bagi Haji Sajali untuk kemudian membangun kampung halaman dari hal yang paling ia cintai, yakni pengairan.

| Memberi Pilihan Lain, tayang 10 Agustus 2016

Siti Khadijah menanggung trauma kehilangan suami yang meninggal beberapa tahun silam akibat terkena longsoran batu ketika tengah menambang batu di tebing. Suami Ijah, begitu ia disapa, memang seorang penambang batu liar di Kampung Panyarang Desa Ciburayut, Cigombong, Bogor, Jawa Barat. Kampung Panyarang sendiri dikenal dengan sebutan “kampung janda” karena banyaknya suami yang meninggal saat melakukan aktivitas penambangan batu. Ijah hanyalah satu di antara sekian janda yang harus hidup dengan trauma.
Lain lagi dengan Atim dan sang isteri Iim. Pasangan suami isteri ini rela hidup bersanding maut demi menangkal kemiskinan. Menambang batu dan pasir memang merupakan mata pencaharian dengan penghasilan yang dinilai lebih baik dari menjadi buruh tani bagi warga sekitar. Kendati rupiah yang didapat tetap saja tidak menentu.
Aktivitas penambangan batu dan pasir yang terjadi di Kampung Panyarang dan Kampung Sayitem telah berlangsung puluhan tahun secara ilegal. Tidak ada standar keamanan yang diterapkan dan hal ini membuat banyak nyawa melayang. Namun, kemiskinan menjadi alasan bagi warga untuk menaruhkan nyawanya untuk dapat mengisi perut mereka. Bahkan, kini warga mendapat tantangan baru karena aktivitas penambangan yang terjadi di tebing, membuat potensi bencana longsor sangat tinggi. Warga, dapat sewaktu-waktu tertimbun longsoran tebing.
Adalah Heni Sri Sundani, seorang pegiat komunitas yang peduli dan mencoba menyajikan solusi dengan memberi bantuan domestik serta membangun lembaga pendidikan. Pendidikan bagi Heni adalah senjata ampuh untuk mengubah pola pikir yang akhirnya berujung pada putusnya mata rantai kemiskinan di Ciburayut.
Berdasarkan pandangan itulah, Pesantren Nurul Haramain NW berdiri dan memberikan fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak petani dan penambang.

| Merapal Syiar Kearifan Lokal, tayang 06 Juli 2016

Berada di area rawan bencana, tidak serta merta membuat masyarakat takut. Potensi tanah longsor yang bisa kapan saja datang, sudah dianggap biasa oleh sebagian besar masyarakat. Mungkin juga, bisa dibilang terlalu cuek. Atau mungkin, karena sudah tidak ada pilihan. Di tengah potensi ancaman bencana alam, Pondok Pesantren Biharul Ulum berdiri. Membawa misi agro ekologi, membuat pesantren ini berbeda dengan kebanyakan. Syiar-syiar tentang wawasan lingkungan pun menjadi gerakan utama pesantren yang memiliki cita-cita agar desa bisa berdaulat dan berdaya. Program pendidikan yang diterapkan pun berdasarkan pada pertanian yang ramah lingkungan dan menciptakan generasi muda yang mencintai tanah, air, udara, dan lingkungan sekitarnya. Pesantren ini didirikan sebagai respons dari begitu runyamnya persoalan agraria dan ekologi yang terjadi di kawasan pertambangan emas.

Tambang emas milik Negara dan warga yang memang berada di kawasan tersebut turut menjadi – diduga – penyebab tanah longsor. Mengurangi jumlah penambang liar dan mengedukasi warga melalui laku kearifan lokal, menjadi syiar pesantren pimpinan Atim Haetami ini.

| Anak-anak di balik cermin, tayang 29 Juni 2016

Meskipun belum ada data akurat yang menyatakan jumlah penyandang autisme, diprediksi jumlahnya terus meningkat di Indonesia. Pada tahun 2015 saja, 1/250 anak mengalami gangguan spectrum autis dan di tahun yang sama, kurang lebih 12.800 anak menyandang autism serta 134.000 menyandang spectrum autis. Autisme juga seringkali dikaitkan pada aspek kemandirian dan bertahan hidup. Anak-anak penyandang autisme memiliki perspektif atau cara pandang berbeda terhadap dunia. Cara-cara menjalankan kehidupan sosial pun berbeda. Oleh karena itulah, penyandang autisme memiliki kesulitan dalam bersosialisasi dan perlu adanya intervensi dini untuk melatih kemandirian dan aspek sosialisasi. Dibalik itu, peran keluarga amat penting.
Hidup berdampingan dengan penyandang autisme tentu tidak mudah, terlebih stigma buruk kerap menghampiri mereka. Anak-anak penyandang autisme dianggap tidak dapat berkembang dan melanjutkan hidup dengan baik, banyak di antaranya bahkan yang dianggap sebagai manusia berpenyakit mental. Namun hal tersebut ditepis oleh Muti’ah dan keluarga. Amalia Tri Oktavia menyandang autisme sejak usia tiga tahun. Meski digelayuti oleh perasaan takut dan sedih sebagai ibu, Muti’ah menerima kondisi Amel dengan penuh syukur dan berusaha memberikan yang terbaik untuk Amel meski hidup dalam keterbatasan ekonomi.

| Jurus-jurus Pekerti, tayang 01 Juni 2016

Ketiadaan pelatih perempuan dan minimnya atlet perempuan pada cabang olahraga beladiri pencak silat, membuat Lies Ismori pensiun muda sebagai atlet silat nasional dan memilih menjadi pelatih. Ia mendirikan perguruan silat Ayu Pusaka Indonesia, yang bermarkas di Bogor. Melalui perguruan inilah, selain mengajarkan silat, Lies juga menanamkan karakter yang menjadi nilai-nilai dasar pencak silat. Saling menghargai, nasionalisme, kemandirian adalah beberapa hal yang menjadi menu ajar disela-sela latihan. Jatuh bangun Lies mengajarkan silat, seni beladiri tradisional yang semakin kalah pamor dari seni beladiri impor seperti karate, taekwondo atau judo. Tidak ada keuntungan materi yang ia dapatkan.

Salah satu anak didik Lies yang kini juga mengajar silat adalah Ade Wahyuni. Silat telah mengajarkan keberanian dan kemandirian ditengah perjalanan menyedihkan hidup Ade sejak kecil. Meski tidak menjanjikan penghasilan, Ade bertekad mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan ilmu beladiri kebanggaan Indonesia ini.

| Reksa di Ujung Indonesia, tayang 18 Mei 2016
Isu kesehatan masih menjadi perhatian serius di wilayah timur Indonesia. Pemerataan pembangunan dan minimnya akses yang memadai, menjadi salah satu faktornya. Menilik hal itu, Yayasan Buddha Tzu Chi Biak tergerak untuk menyebarkan semangat cinta kasih di antara sesama melalui misi kesehatan. Adalah Susanto Pirono, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Biak , yang menjadi motor misi kesehatan di wilayah timur Indonesia ini. Berjuang bersama relawan yang lain, menyeberangi lautan, dan melawan ganasnya ombak untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Itu sudah menjadi aktivitas rutin para relawan yang dengan gigih dan tanpa pamrih meringankan beban warga yang membutuhkan. Cerita tentang tiga mutiara Papua juga akan mewarnai kisah perjuangan menjalankan misi kesehatan ini. Di sinilah wujud toleransi di antara sesama. Membantu tanpa pandang asal usul. Tidak melihat perbedaan warna kulit. Keluarga Alex Aiwor adalah satu dari sekian banyak warga Biak atau Papua pada umumnya, yang menerima manfaat dari misi kesehatan Yayasan Buddha Tzu Chi Biak. Menjaga masa depan melalui misi kesehatan adalah sebuah keniscayaan.
| Merintis Jalan Peradaban, tayang 11 Mei 2016

Merintis Jalan Peradaban
Menyasar hal vital dalam dunia pendidikan tidak melulu berbicara tentang kualitas pengajar maupun kurikulum yang diterapkan. Masih ada lokasi di Indonesia, yang masih bergelut dengan aspek lain yang cenderung bersifat mendasar, seperti akses jalan dan kesehatan siswa. Hal tersebut tentu disesuaikan dengan tantangan tiap daerah dalam mewujudkan masyarakat yang cerdas.
Seperti kisah Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang mencoba menyasar hal paling fundamental dalam pendidikan di Desa Campakasari, Bojonggambir, Tasikmalaya dan Pesantren Nurul Iman, Parung, Bogor.
Jembatan yang membentang di atas sungai Cikaengan menjadi hal penting dalam menghidupkan kembali nafas pendidikan antara Kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Lebih kurang sembilan tahun, jembatan ini menjadi saksi upaya Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dalam meningkatkan kualitas SDM di kawasan yang tergolong terpencil ini.
Dilain pihak, peningkatan kualitas akan kesehatan santri, dilakukan yayasan sosial berusia 50 tahun ini, lewat baksos kesehatan. Dengan asumsi bahwa kesehatan menjadi hal mendasar dalam proses penyerapan materi ajar. Karena dalam tubub yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
Kiprah Yayasan Buddha Tzu Chi diakui masyarakat tepat menyasar hal vital yang secara mendasar paling dibutuhkan oleh masyarakat. Lalu seperti apa kisah yayasan ini dalam menerapkan misi pendidikan di Tanah Air?

google plusPinterest