Ramadan Penuh Cinta DAAI TV : Mencari Petunjuk Jalan Hidup

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat tengah memberikan tausiyah dalam program Harmoni Ramadan DAAI TV. (Sumber : Youtube/DAAI TV Indonesia)

Hidup adalah sebuah proses perjalanan ziarah dan proses mencapai cita-cita. Dalam proses ziarah tersebut, ada banyak rintangan. Sedemikian rupa, hidup itu berjalan, pasti akan menemukan rintangan, tantangan dan hambatan.

Pertanyaannya, apakah kita siap berjalan mencapai tujuan kita?

Penting menyadari apa tujuan dan agenda yang ingin kita raih. Jangan sampai kita hidup tidak produktif dan menghabiskan waktu tanpa mencapai tujuan hidupnya.

Mindfulness, atau sebuah kesadaran tentang apa yang kita lakukan sangatlah penting. Saat ini godaan begitu banyak, apalagi dampak dari budaya digital. Budaya digital membuat kita responsive dan emosional. Jari kita kadang tak terkontrol dengan pikiran yang responsive.  

Kita perlu melatih mindfulness. Menyadari saat ini kita berada dimana dan sedang melakukan dan memikirkan apa. Hal ini akan menuntun kita agar tidak sesat arah. Peta jalan hidup, pertama adalah diri kita.

Bintang di langit, bagi seorang kafilah sangat penting. Tapi peta jalan moral, yaitu bintang yang ada di hati kitalah yang akan memberikan jalan kebenaran. Jika kita mau menyelami lebih dalam lagi daya kekuatan ruhani kita, maka kita akan menemukan kedamaian.

Orang yang sadar mendengarkan suara hatinya, biasanya ia enggan bertengkar. Karena bertengkar dan marah akan menggerogoti dan memberi energi negative dalam hidup kita.

MERASAKAN SYUKUR

Jika kita bisa merasakan syukur dalam kehidupan kita, maka kita akan merasakan keindahan kehidupan. Mental kita jangan hanya ingin diberi, tapi harus memberi. Mental kita jangan hanya mau dihargai, tapi juga harus bisa menghargai. Jika kita melakukannya dengan seimbang, maka energi positif itu akan berbalik kepada kita.

Penunjuk jalan ada dalam diri kita. Hakikat terang dimulai dari diri kita. Allah swt adalah terang yang paling terang. Jika kita membuka diri kita pada cahaya Allah. Cahaya terang Allah adalah cinta. Jika hati kita dipenuhi cinta, maka hidup kita juga akan dipenuhi cinta kasih. Kehadiran teknologi digital bisa semakin mendekatkan jika diisi dengan semangat saling berbagi dan mencintai, sehingga akan terjadi pelipatgandaan cahaya.

Awal dari pencerahan hidup kita, dimulai dari diri kita. Ketika Allah memberikan energi cinta kepada kita, maka kita bisa menjadi penebar cinta Tuhan. Dengan demikian hidup menjadi lapang, menjadi indah.

MENJAUHKAN PENGARUH NEGATIF BUDAYA DIGITAL

Sadarilah siapa kita. Aku bukanlah kekayaanku, aku bukanlah jabatanku. Karena semua bisa datang dan pergi. Jangan menjadi budak dari materialism. Jadilah aku yang spiritual. Semua yang kita miliki hanyalah sebuah kendaraan untuk menjadi aku yang spiritual. Jangan merasa paling pandai, sehingga mudah tersinggung. Karena ketika merasa pintar inginnya menceramahi orang lain, dan tidak mendengarkan orang lain.

Jangan jadikan pikiran sebagai majikan. Tapi jadikan wakil ruh kita dalam menyebarkan kasih sayang. Dalam setiap agama ada ritual yang harus dilakukan. Namun ritual jangan dilepaskan dari spiritual kita, agar kita tidak sesat dalam dunia ini. Budaya digital banyak informasi yang menyesatkan. Mari kita     belajar supaya jangan mudah terpancing dengan membludaknya arus informasi yang begitu kencang, agar hidup kita selamat dunia akherat.

Saksikan Video Terkait :