Waspada Osteogenesis : Kerapuhan Tulang Secara Genetika

dr. Robert Tirtowijoyo, SpOT spesialis Orthopedi dan Traumatologi dari rumah sakit Royal Taruma, menjelaskan seputar kelainan Osteogenesis. (Sumber : Youtube/Bincang Sehati DAAI TV)
dr. Robert Tirtowijoyo, SpOT spesialis Orthopedi dan Traumatologi dari rumah sakit Royal Taruma, menjelaskan seputar kelainan Osteogenesis. (Sumber : Youtube/Bincang Sehati DAAI TV)

Berbeda dengan Osteoporosis yakin kerapuhan tulang yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Osteogenesis dapat terjadi pada anak-anak, bahkan sejak berada dalam kandungan. 

Robert Tirtowijoyo, SpOT spesialis Orthopedi dan Traumatologi dari rumah sakit Royal Taruma, dalam program Bincang Sehati DAAI TV, menjelaskan informasi kesehatan seputar Osteogenesis.

Sebagai kelainan yang diwariskan, Osteogenesis dapat diketahui sejak dini, dengan melihat riwayat dari orang tuanya, juga dari gejala-gejala yang umum terjadi pada kelainan tersebut. 

Gejala pada tipe Osteogenesis 1 :

  • Lahir dengan bola mata yang berwarna kebiruan
  • Patah tulang terjadi sejak anak aktif
  • Setelah tumbuh dewasa, mengalami gangguan pendengaran
  • Terjadi kelainan pada pertumbuhan gigi

Tipe Osteogenesis 2 :

  • Mengalami patah tulang sejak dalam kandungan
  • Sering setelah lahir, meninggal. 

Tipe Osteogenesis 3 : 

  • Lahir dalam kondisi patah tulang
  • Lahir dengan postur kecil
  • Lahir dengan postur kepala besar
  • Bagian putih pada mata berwarna putih hingga abu-abu

Tipe Osteogenesis 4 : 

  • Gabungan antara tipe 1 dan tipe 3

Robert menambahkan peristiwa seperti ini cukup jarang terjadi di Indonesia, dimana dalam 100.000 kelahiran, hanya terjadi 2-3 peristiwa. 

    “Ini (kelainan Osteogenesis) sesuatu yang tidak bisa kita tolak. Ini diwariskan, jadi kita tidak bisa memilih, kita tidak bisa menghindari ini,” jelas dr. Robert. 

    Untuk memutus rantai kelainan Osteogenesis dapat dilakukan dengan terapi genetika, namun hingga saat ini teknologi tersebut belum memungkinkan. Atau dengan menghindari proses reproduksi dalam pernikahan dengan sesama pembawa sifat. 

    “Jika satu pihak sehat, satunya Osteogenesis, dampaknya akan lebih ringan. Tapi jika keduanya pembawa sifat, maka keturunannya akan lahir dengan tipe yang berat,” jelas dr. Robert dalam program Bincang Sehati DAAI TV. 

    dr. Robert menambahkan, bahwa terapi pada pasien dengan Osteogenesis hanya bersifat pencegahan terhadap komplikasi yang bisa terjadi. Bisa dilakukan sejak bayi hingga dewasa.

    Saksikan Video Terkait :