Ilustrasi: self-diagnosis adalah tindakan mendiagnosis diri sendiri mengidap suatu penyakit berbekal informasi yang diperoleh secara mandiri. (Foto/Canva). Ilustrasi: self-diagnosis adalah tindakan mendiagnosis diri sendiri mengidap suatu penyakit berbekal informasi yang diperoleh secara mandiri. (Foto/Canva).

Di zaman yang serba digital ini, berbagai informasi bisa didapatkan dengan mudah melalui internet, termasuk informasi mengenai kesehatan. 

Hal ini menyebabkan banyak masyarakat mencari tahu sendiri gejala dan penyebab penyakit yang dialaminya melalui internet, dibandingkan pergi memeriksakan diri ke dokter.

Fenomena ini dinamakan self-diagnosis, yaitu  mendiagnosis diri sendiri mengidap suatu penyakit berbekal informasi yang dimiliki diri sendiri atau informasi yang didapatkan melalui sumber mandiri seperti internet. 

Berdasarkan hasil survei dari Millennial Mindset: The Worried Well pada tahun 2014, 37% responden Gen Y terkadang melakukan Self-Diagnosis terkait masalah kesehatan mental yang sebenarnya tidak mereka miliki.

Kecenderungan untuk menggunakan internet untuk self-diagnosis ini dapat menciptakan siklus stress. Sebanyak 44% Gen Y menyatakan bahwa mencari informasi kesehatan secara  online dapat menyebabkan rasa khawatir tentang kesehatan mereka.

Bahaya Melakukan Self-Diagnosis bagi Kesehatan Mental 

Saat melakukan self diagnosis, seseorang hanya berbekal informasi yang bisa saja salah, sehingga membahayakan kondisi kesehatan mental.

Dr. Luky Thiehunan, Sp.KJ, Spesialis Kedokteran Jiwa, dalam acara Bincang Sehati DAAI TV menjelaskan bahwa kesehatan mental dan emosi seseorang saling berhubungan.

“Mental yang sehat diciptakan untuk berpikir. Jika tindakan yang dilakukan benar maka timbul rasa puas dan nyaman, sedangkan perasaan negatif menjadi alarm dari sebuah perilaku yang salah.” ujar Dr.Luky.

Melakukan self-diagnosis di internet dapat membahayakan kesehatan mental seseorang. Beberapa dampak negatif self-diagnosis diantaranya:

1.Menimbulkan Kekhawatiran Berlebih

ketika melakukan self-diagnosis, seseorang dapat mengalami kondisi mental yang biasanya ditandai dengan kekhawatiran berlebihan terhadap situasi tertentu.

Hal ini dikarenakan manusia memiliki naluri untuk memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa menimpanya. Pada akhirnya, self-diagnosis hanya akan membuat seseorang mengalami kekhawatiran yang tidak seharusnya terjadi.

2. Memperburuk Kondisi Mental Seseorang

Gejala penyakit atau gangguan kesehatan mental yang ditebak lewat internet belum tentu benar informasinya.

Bisa saja ada mendiagnosa sedang mengalami gangguan kecemasan, tetapi sebenarnya sedang mengalami depresi. Hal ini dapat memburuk kondisi kesehatan mental apabila salah diagnosa.

Setiap masalah kesehatan mental juga memiliki penanganan yang berbeda-beda. Ada yang bisa diatasi dengan terapi, ada pula yang membutuhkan obat-obatan tertentu.

3. Enggan Berkonsultasi Dengan Tenaga Profesional

Jika terlalu sering melakukan self-diagnosis, seseorang bisa berpikir kesehatan mental yang dialaminya tidak terlalu parah.

Hal ini bisa membuat seseorang merasa tidak perlu berkonsultasi ke psikolog karena sudah percaya diagnosis penyakitnya melalui internet.

Self-diagnosis dapat digunakan untuk mencari informasi mengenai keluhan atau solusi penyakit yang sedang diderita. Namun untuk mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat, lebih baik konsultasikan ke profesional, seperti dokter dan psikolog.

NR
  • Referensi

Saksikan Video Terkait :