Buah kepel adalah buah asli Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi tanaman kesukaan putri keraton. (Foto/Canva). Buah kepel adalah buah asli Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjadi tanaman kesukaan putri keraton. (Foto/Canva).

Siapa yang pernah mendengar tanaman Kepel? Mungkin hanya sedikit masyarakat yang tahu tanaman ini karena keberadaannya yang sulit ditemukan.

Kepel adalah tanaman asli Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanaman ini dulu banyak tumbuh di Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta.

Kepel biasa disebut burahol, turalak, dan kecindul. Dalam bahasa Inggris tumbuhan langka ini dikenal sebagai Kepel Aple, sedangkan nama ilmiahnya adalah Stelechocarpus burahol. 

Pohon Kepel dipercaya mempunyai nilai filosofi adiluhung dan merupakan flora identitas provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pohon Kepel melambangkan manunggaling sedya kaliyan gegayuhan yang memiliki arti bersatunya antara niat dengan kerja.

Tanaman Kepel dapat mencapai tinggi 25 meter. Diameter batang utamanya  mencapai 40 meter. 

Batang pohon kepel berwarna coklat kehitaman. Di tengah-tengah batangnya terdapat tonjolan-tonjolan bekas tumbuh buah.

Kepel dapat berbunga setelah berumur delapan tahun. Buahnya dapat dipanen setelah enam bulan berbunga, yaitu pada bulan Maret hingga April.

Manfaat Buah Kepel

Dahulu, di kalangan Kraton Jogja, kepel menjadi tanaman yang disukai oleh putri keraton.

Tanaman ini dimanfaatkan oleh para putri keraton sebagai deodoran. Tak hanya itu, buah kepel dipercaya dapat membuat air seni dan keringat menjadi harum seperti bau buah Kepel.

Dilansir pertanian.go.id, bagian buah, biji, dan akar tanaman kepel mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol yang bermanfaat bagi tubuh. 

Kepel dapat digunakan sebagai tanaman obat untuk membersihkan darah, serta menguatkan liver, paru-paru, dan ginjal.

Daun buah kepel juga bermanfaat sebagai obat tradisional untuk mengatasi asam urat yang banyak diderita para lansia.

Tanaman Langka

Walaupun tanaman kepel menjadi identitas dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, keberadaannya kini sulit ditemukan dan termasuk tanaman langka di Indonesia. 

Kepel awalnya merupakan tanaman eksklusif dan hanya digunakan oleh kalangan bangsawan, sehingga tanaman ini hanya tumbuh di sekitar keraton.

Alasan lain yang menjadi penyebab kelangkaan kepel adalah masyarakat yang enggan membudidayakannya. Nilai ekonomi kepel dianggap kurang menarik serta daging buahnya sedikit.

Untuk mencegah kepunahan tanaman Kepel, pada tahun 2012 dilakukan usaha konservasi tanaman Kepel di Mangunan, Yogyakarta.

NR