Penulis : Grace Kolin

Setiap tahunnya, tanggal 10 Mei diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia. Tujuan peringatan hari ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit tersebut. Dilansir dari lupus.org, ada sekitar lima juta orang di dunia yang mengidap penyakit ini. Lupus dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia dan jenis kelamin, namun dari segi jenis kelamin, perempuan lebih rentan terkena penyakit ini, dengan perbandingan sembilan dari sepuluh orang dewasa yang menderita lupus adalah perempuan. Karena itu, kita perlu mengenal penyakit ini agar tidak panik dan dapat mengantisipasi gejalanya agar tidak bertambah parah.

Apa itu lupus?

Dilansir dari hellosehat.com, lupus adalah penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan organ yang sehat. Penyakit ini tergolong ke dalam penyakit autoimun yang dapat menyebabkan sel-sel tubuh menjadi rusak dan mengalami peradangan. Peradangan yang disebabkan oleh penyakit ini dapat memengaruhi banyak organ tubuh, mulai dari persendian, kulit, sel darah, hingga organ vital seperti ginjal, jantung, paru-paru dan otak. Orang yang mengidap penyakit lupus disebut dengan odapus (orang dengan penyakit lupus).

Apa ciri-ciri dari penyakit lupus?

Penyakit ini sering dilambangkan dengan kupu-kupu. Alasannya karena salah satu tanda yang cukup khas pada odapus adalah ruam kemerahan pada pipi yang menyerupai sayap kupu-kupu (butterfly rush). Penyakit lupus juga dikenal sebagai ‘penyakit 1000 wajah’, hal ini dikarenakan gejala penyakit ini menyerupai gejala banyak penyakit lain, akibatnya penyakit ini cenderung sulit untuk dideteksi sejak dini. Selain butterfly rush, biasanya ada beberapa tanda dan gejala lupus yang muncul, khususnya pada wanita seperti:

  • Rambut rontok.
  • Kejang-kejang.
  • Nyeri dan pembengkakan sendi.
  • Luka pada mulut atau hidung yang tidak kunjung sembuh.
  • Keluar darah atau ditemukan protein dalam urine.
  • Dada sakit dan sulit bernapas akibat peradangan pada paru-paru.

Apa penyebab lupus?

Penyakit lupus dapat disebabkan oleh faktor genetik, hormon, dan lingkungan.

Apakah lupus bisa menular?

Dilansir dari halodoc.com, lupus tidak dapat menular. Seorang odapus tidak dapat menularkan penyakit ini secara  kontak langsung, udara, ataupun melalui cairan tubuh. Meski demikian, lupus dapat diturunkan secara genetik. Jika seseorang memiliki saudara atau anggota keluarga yang mengidap penyakit lupus, maka risikonya terkena penyakit ini adalah 8-20 kali lipat.

Apakah lupus mematikan?

Meskipun lupus tidak bisa disembuhkan secara total, namun lupus bukanlah penyakit yang mematikan. Asalkan pengidapnya menjalani perawatan dengan benar, ia dapat hidup dengan normal. Mengutip dari situs verywellhealth.com, lebih dari 90% odapus dapat bertahan selama 10 tahun atau lebih, bahkan banyak odapus yang mencapai rentang harapan hidup yang normal.

Bagaimana caranya berdamai dengan lupus?

Lupus memang tidak bisa disembuhkan. Namun tidak menutup kemungkinan para odapus dapat memiliki kehidupan yang berkualitas dengan mengenali dan menangani penyakit ini sedini mungkin. Dalam program Bincang Sehati DAAI TV, dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI menuturkan bahwa seseorang dengan lupus juga dapat beraktivitas dengan normal, tergantung pada kemampuan tubuh masing-masing dan kondisi lupus saat itu. Dalam kondisi lupus yang berat, seseorang memerlukan perawatan yang intensif dengan aktivitas yang minimal.

“Tapi nanti dengan semakin baiknya pengobatan kemudian kondisi lupusnya juga semakin terkontrol, semakin ringan, dia juga akan semakin fit badannya. Dan ketika dia sudah mampu untuk aktivitas, kita akan menganjurkan pasien tersebut untuk mulailah olahraga. Dimulai dari olahraga yang ringan dulu sesuai dengan kemampuan fisiknya, dan nanti semakin ditingkatkan semampu mana dia melakukannya,” kata Suzy.

Suzy juga menambahkan pesan untuk perempuan dengan lupus yang ingin memiliki keturunan, sebaiknya merencanakan kehamilan dengan sebaik mungkin, mengingat tidak semua obat lupus dapat dikonsumsi oleh ibu hamil yang mengidap lupus. Tanpa perencanaan kehamilan yang baik, para perempuan dengan lupus  dapat mengalami kondisi lupus yang semakin tidak terkontrol, komplikasi kehamilan yang meningkat, hingga memengaruhi pertumbuhan dan keselamatan janin yang dikandung.