Penulis : Grace Kolin

Selain Covid-19, hepatitis menjadi salah satu penyakit yang tengah ramai dibicarakan. Pasalnya, pada tahun ini muncul varian hepatitis yang tidak biasa, yaitu Hepatitis Misterius. Varian hepatitis ini bahkan sudah dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Secara tidak langsung, kemunculan varian hepatitis ini juga turut menghidupkan kembali kesadaran masyarakat akan penyakit hepatitis secara keseluruhan. Termasuk kesadaran masyarakat akan vaksin hepatitis.

Sebagai penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada fungsi hati dan mudah  ditularkan dari satu orang ke orang lainnya, keberadaan hepatitis perlu diantisipasi salah satunya dengan pemberian vaksin. Sejauh ini, vaksin untuk penyakit hepatitis baru tersedia untuk dua jenis hepatitis, yaitu Hepatitis A dan Hepatitis B.

Vaksin ini dapat diperoleh sejak dini, yaitu kala seseorang baru lahir. Namun, dalam keadaan tertentu, sebagian orang juga ada yang belum memperoleh vaksin hepatitis, bahkan ketika ia sudah dewasa. Menurut dr. Fitrinilla Alresna, Sp.PD dari Rumah Sakit Permata Depok, tidak ada batasan usia dalam memperoleh vaksin hepatitis.

Sebelum divaksin, seseorang dapat melakukan pemeriksaan anti HBs untuk mendiagnosis apakah ia sudah memiliki antibodi terhadap Hepatitis B atau belum. Jika ternyata dari hasil diagnosis, seseorang memiliki anti HBs yang rendah, maka di usia berapapun ia dapat memperoleh vaksin hepatitis. Namun, jika seseorang terdiagnosis dengan anti HBs yang tinggi atau sudah pernah terkena hepatitis, maka ia tidak perlu lagi mendapat vaksin hepatitis karena tubuhnya sudah memiliki antibodi terhadap penyakit tersebut.

Vaksinasi hepatitis pada anak sangat penting, terutama ketika anak tersebut memiliki anti HBs yang rendah. Fitrinilla menyarankan untuk segera melakukan catch up vaksinasi hepatitis pada anak dengan kondisi tersebut. Seseorang dengan komorbid, atau penyakit penyerta juga dapat memperoleh vaksin hepatitis, dengan penyesuaian dosis dan interval pemberian. “Dan pada pasien yang ada gangguan imunitas atau imunokompromais, biasanya setelah vaksin akan dilakukan monitor berkala, respon terhadap vaksinnya, jadi anti HBs-nya akan dinilai, karena pada pasien-pasien gangguan imun, ini nanti akan dimintai anti HBs-nya secara berkala apakah ada respon dengan vaksin yang diberikan sebelumnya,” kata Fitrinilla.

Penyakit hepatitis dapat menyerang siapapun dan kapanpun, tanpa memandang usia dan jenis kelamin. Untuk itu, vaksin hepatitis menjadi salah satu langkah preventif yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi risiko dari penyakit ini di masa yang akan datang.