Penulis : Grace Kolin

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki potensi yang luar biasa dalam berbagai bidang, termasuk bidang seni tari. Potensi ini menggugah hati Diah Kusumawardani, penggagas Yayasan Belantara Budaya Indonesia dalam membuka sekolah tari tradisional bagi ABK secara gratis pada bulan Juni 2022.

Sekolah yang berada di Museum Tanah dan Pertanian Bogor, Jawa Barat ini bekerjasama dengan sekolah luar biasa (SLB). Kini, sekolah ini telah memiliki 40 siswa tari ABK. Mereka begitu semangat menunjukkan bakat dan keterampilan dengan menghafal setiap gerakan-gerakan tari yang diajarkan oleh Diah.

“Ada salah satu anak Belantara Budaya Indonesia yang down syndrome, saya melihat dia perkembangannya bagus banget. Jadi awalnya dia malu di pinggir tembok, lama-lama maju ke depan, gak pernah lagi mau menari di belakang, selalu menari di sebelah guru tarinya. Dan ternyata perkembangannya juga cukup pesat banget gitu, namanya Ayu. Ayu sekarang sudah tampil percaya diri, juara di berbagai kejuaraan, yang pasti lebih kerennya lagi Ayu menularkan kecintaannya terhadap budaya Indonesia ini ke teman-temannya di SLB. Dia ngajarin tari tradisional, dan itu mendorong saya untuk membangun sekolah disini,” ujar Diah.

Kehadiran sekolah gratis untuk ABK ini mendapat apresiasi dari Sanusi, Pamong Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor. Ia memandang upaya ini sebagai langkah bersama untuk melakukan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan seni budaya di Kota Bogor, khususnya kesenian tradisional. “Dan tentunya hal ini perlu diapresiasi dan didukung semua pihak, agar anak-anak difabel ini bisa setara dengan anak-anak yang lainnya dalam rangka menggeluti atau pelestarian seni budaya di Kota Bogor ini,” kata Sanusi.

Gracelia, orang tua ABK menyambut baik sekolah tari tradisional gratis yang didirikan oleh Diah untuk ABK. Ketika melihat Ayu menari, anaknya jadi tertarik untuk belajar tari tradisional juga. “Alhamdulillah ada kelas untuk anak difabel. Kan anak saya kebetulan juga grahita. Jadi ya bisa sangat menolong lah. Kalau ada ini, ada wadahnya kan justru lebih baik. Itu sangat menguntungkan sekali untuk anak-anak spesial kayak anak saya,” imbuh Gracelia.

Bagi Diah, sekolah tari tradisional ini dapat menjadi gerakan perjuangan untuk mengikis sekat adanya perbedaan. Ia berharap banyak orang akan tersadarkan dengan keberadaan siswa disabilitas yang menari dan larut bersama menjaga tradisi, persahabatan, terutama cinta kasih.