Emotional eating

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Ketika sedang stres, makanan kerap dicari sebagai bentuk pelampiasan. Tidak jarang, kehadiran makanan bisa membuat mood jadi lebih baik. Ini wajar, karena menurut laman hellosehat.com, sebagai upaya tubuh dalam menyediakan energi yang dibutuhkan untuk merespon stres, seseorang akan mengalami peningkatan nafsu makan. Sehingga, ia akan mencari makanan untuk memberikan kenyamanan padanya.

Fenomena makan bukan karena lapar namun untuk mengatasi emosi ini dikenal dengan emotional eating. Saat emotional eating, seseorang tidak hanya menggunakan makanan untuk mengatasi stres, namun juga untuk merespon emosi lainnya seperti marah, sedih, atau bahkan senang.

Menurut laman tersebut, jika emotional eating dilakukan secara terus-menerus, tidak menutup kemungkinan hal ini dapat memengaruhi berat badan, kesehatan, bahkan kesejahteraan seseorang secara keseluruhan.

Agar tidak kalap makan di bawah pengaruh emosi, seseorang perlu strategi agar kegiatan makan yang dilakukan tidak membawa dampak buruk kedepannya. Berikut ada beberapa tips untuk mengatasi emotional eating menurut ahli diet Anna Kippen:

  • Kenali penyebabnya

Seseorang perlu untuk mencari tahu dan mengatasi penyebab dari emotional eatingnya. Selain penyebab yang ringan seperti mengalami hari yang buruk atau pertengkaran dengan teman, emotional eating dapat timbul dari penyebab yang serius seperti stres kronis, amarah jangka panjang, depresi dan sejenisnya. Jika hal ini terjadi, seseorang dapat meminta bantuan profesional, mengikuti konseling, melakukan manajemen stres, aktivitas fisik dan teknik lainnya.

  • Tanyakan alasan mengapa kita makan?

Ketika keinginan untuk makan muncul, tanyakan pada diri sendiri apakah keinginan ini memang karena lapar atau tidak? Dengan melakukan hal itu, seseorang dapat mengenali alasan yang membuat keinginan makan itu muncul.

  • Menyimpan camilan yang sehat

Dalam mengantisipasi emosi yang dapat timbul sewaktu-waktu, seseorang dapat menyimpan camilan yang sehat seperti sayur dan buah-buahan. Pasalnya, mengonsumsi makanan olahan berlebihan bisa meningkatkan kadar kortisol atau hormon stres.

  • Pilih makanan yang bisa mengurangi stres

Teh dapat menjadi salah satu alternatif pereda stres yang sehat, karena selain mengandung antioksidan, teh seperti teh hijau, teh putih, matcha megandung asam amino L-theanin dapat membantu menurunkan tingkat stres.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber