Penulis : Grace Kolin

Tidak ada yang menyangka jika kebun hidroponik seluas 660 meter persegi yang terletak di Jakarta ini dulunya adalah lahan bekas lapangan tenis. Lahan ini merupakan bagian dari Tangkas Sports Centre, pusat olahraga sekaligus tempat Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) bernama PB Tangkas yang telah mencetak sepuluh juara dunia, lima juara olimpiade, dan ratusan gelar medali lainnya dalam cabang olahraga bulu tangkis.

Saat pandemi Covid-19 melanda di tahun 2020, Tangkas Sports Centre terpaksa harus menghentikan segala aktivitasnya untuk mematuhi anjuran pemerintah terkait PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Agar tidak banyak karyawan yang terdampak ekonomi atau terpaksa dirumahkan karena pandemi, Bobby Agus, sang pemilik pusat olahraga ini kemudian mendapatkan ide dari temannya untuk mendirikan kebun hidropnik bernama Greenville Farm di atas lahan bekas lapangan tenis.

“Sistem hidroponik yang kami pilih itu, kami nilai paling tepat dan paling mudah untuk kami aplikasikan. Karena sistem hidroponik itu membuat lahan yang harusnya butuh lahan yang luas, dengan sistem hidroponik jadi lebih efisien penggunaan lahannya. Apalagi kami benar-benar posisinya di tengah kota gitu,” kata Bobby. Ia juga menambahkan bahwa berdirinya kebun ini adalah untuk mendukung masyarakat dalam mendapatkan sayuran segar dan sehat, serta membantu masyarakat menjaga imun tubuh setiap harinya.

Kebun hidroponik berbentuk greenhouse ini memiliki 24.000 lubang tanam dan menanam 12 varian sayur yang dapat dipanen setiap hari. Kebun ini juga menjadi lapangan pekerjaan bagi karyawan sport center di kala pandemi. Mayoritas karyawan sport center yang diberdayakan di kebun ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari bagian maintenance, office, agency, hingga sekuriti.

Ifan adalah salah seorang mantan karyawan Tangkas Sports Centre di bagian lampu LED. Saat pandemi, bagian lampu LED kurang mendapat pemasukan, sehingga ia dipindahtugaskan ke Greenville Farm. “Ini pengalaman baru banget sih, apalagi yang belajarnya kita di teknik, bikin lampu terus tau-tau disuruh pegang tanaman, itu butuh adaptasi yang lumayan agak lama juga sekitar satu bulan dua bulan,” ucap Ifan. Semenjak ia bekerja disini, ia jadi memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, seperti cara menanam, menyiram maupun memupuk tanaman. 

Tak hanya memproduksi sayur segar, Greenville Farm mengembangkan produk turunan dari sayur hidroponik seperti salad dan jus olahan dari sayur hidroponik. “Pertanian hidroponik adalah solusi jangka panjang untuk kita manusia untuk bisa hidup lebih lama, karena makin mahalnya tanah, kalau kita tidak mengganti sistem pertanian kita, para petani itu akan merambah membuka lahan ke area pinggir, ke area hutan gitu. Sehingga konfrontasi manusia dengan hewan liar akan lebih sering terjadi, terus hutan-hutan makin gundul karena dibuka untuk lahan pertanian gitu,” ujar Bobby.