Sebelas Pintu

Setiap Senin – Jumat | 15.00 & 20.00 WIB

Tekanan Min-ci sangat besar saat memikirkan sebentar lagi dia akan selesai wamil. Min-ci tidak punya tabungan dan belum memiliki pekerjaan, dia sangat cemas tidak bisa menghidupi sebuah keluarga. Namun, Xing-zhi dan keluarganya tidak merendahkannya sama sekali. Min-ci merasa sangat beruntung bisa bertemu Xing-zhi yang begitu memakluminya. Begitu pula sebaliknya. Xing-zhi juga merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Min-ci yang begitu tulus dan bersabar menghadapi tabiatnya yang buruk.                        

Setelah menikah, Xing-zhi ikut Min-ci pindah ke Tainan. Xing-zhi dan Min-ci memiliki tiga anak. Setiap merasa tidak lancar menempati sebuah rumah, Xing-zhi pasti menghubungkannya dengan hal mistis. Min-ci sudah berulang kali meminta Xing-zhi agar jangan percaya takhayul, tetapi Xing-zhi tidak mau mengindahkannya. Setelah hidup berpindah-pindah sekian tahun, Min-ci dan Xing-zhi akhirnya memiliki rumah sendiri.

Saat Min-ci terkena TBC tulang belakang, ada banyak tetangga dan teman yang begitu perhatian padanya. Hal itu membuat Min-ci sangat terharu. Min-ci lalu membangkitkan ikrar dia juga mau membantu orang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuannya. Dia mau menjadi orang yang tahu berbalas budi dan bisa terus meneruskan cinta kasih.

Daya pendengaran Xing-zhi semakin hari semakin menurun dan ada kemungkinan memburuk hingga tuli sepenuhnya. Xing-zhi beranggapan itu merupakan hukuman buat sendiri yang kerap bertutur kata buruk. Xing-zhi lalu berintrospeksi atas kesalahan yang sudah dia lakukan dahulu. Meski kejadian yang menimpa Xing-zhi tidak diharapkan Min-ci, tetapi Min-ci tidak mengeluh sama sekali. Min-ci bersedia menjadi telinga Xing-zhi dan bersedia memperbaiki diri bersama.

YouTube
YouTube
LINKEDIN
Instagram